Harga Minyak Dunia Tertekan Rencana Tarif Baja AS

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 05/03/2018 07:17 WIB
Harga Minyak Dunia Tertekan Rencana Tarif Baja AS Harga minyak dunia turun, pertama kali dalam tiga pekan terakhir. Rencana AS memungut tarif baja dikhawatirkan jadi sentimen kenaikan produksi minyak mentah AS. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot di sepanjang pekan lalu. Penurunan ini merupakan pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir. Penyebabnya tak lain karena kekhawatiran rencana Amerika Serikat (AS) mengenakan tarif baja dan aluminium yang diramal menekan pertumbuhan ekonomi dan sentimen kenaikan produksi minyak mentah AS.

Dilansir dari Reuters (5/3), harga minyak mentah berjangka acuan Brent pada perdagangan akhir pekan lalu menanjak US$0,54 atau 0,9 persen menjadi US$64,37 per barel secara harian. Namun, secara mingguan, harga Brent melorot empat persen.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) tumbuh tipis US$0,26 atau 0,4 persen menjadi US$61,25 per barel. Kendati demikian, WTI tercatat turun lebih dari tiga persen secara mingguan.



Pada Kamis lalu, harga minyak mengekor pasar saham yang merosot pasca Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia akan mengenakan tarif yang besar untuk melindungi produsen AS. Tak ayal, investor khawatir langkah ini bakal memicu perang perdagangan antar negara.

Industri minyak dan gas (migas) menghempaskan rencana tersebut. Pasalnya, hal itu akan membunuh pekerjaan di sektor energi dengan meningkatkan harga untuk proyek-proyek infrastruktur besar.

Kemudian, harga minyak sempat tergelincir mengikuti pasar modal pada awal perdagangan, namun berhasil bangkit bersama pasar saham seiring indeks S7P 500 dan Nasdaq yang bergerak ke arah zona positif.

"Keberadaan tarif menimbulkan kekhawaatiran soal pertumbuhan ekonomi yang tidak dapat mendongkrak permintaan," ujar Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.

Selain itu, lanjut Mc Gillian, harga minyak mentah juga masih di bawah tekanan kekhawatiran terhadap pertumbuhan produksi AS yang berpotensi mengimbangi pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.

Sebelumnya, pemerintah AS melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik lebih cepat dibandingkan persediaan bensin dengan kenaikan yang mengejutkan.

"Kami (pasar) sedang dikemudikan oleh kenaikan pada persediaan minyak AS dan, secara umum, pasar pergi terlalu jauh dan terlalu cepat," ujar Kepala Analis Pasar CMC Markets Ric Spooner di Sidney.


"Kemudian, kami juga memiliki volatilitas pada dolar AS dan implikasi dari tarif baru sebagai faktor yang dipertimbangkan," imbuhnya.

Perwakilan OPEC rencananya akan mengadakan malam dengan perusahaan minyak shale AS pada awal pekan ini. Pertemuan itu diperkirakan membahas mengenai cara terbaik untuk menaklukkan pasokan global yang membanjir.

Produksi minyak mentah AS tergelincir pada Desember 2017, namun pada November 2017 mencapai level tertingginya sepanjang sejarah dengan produksi sebesar 10,057 juta barel per hari. Data mingguan terakhir juga mencetak rekor dan diperkirakan masih terjadi kenaikan lebih lanjut. (bir)