BI: Ekonomi Kuartal I 2018 Membaik dari Tahun Lalu

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 06:17 WIB
BI: Ekonomi Kuartal I 2018 Membaik dari Tahun Lalu Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2018, lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,01 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2018 lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 5,19 persen, namun membaik dari capaian periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,01 persen.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan melemahnya pertumbuhan ekonomi secara kuartalan ini disebabkan pertumbuhan ekspor netto yang makin menurun lantaran impor Indonesia awal tahun terbilang cukup deras.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca perdagangan pada Januari di angka US$670 juta atau terjun dari posisi Desember 2017 yakni US$220 juta.



"Di awal tahun kami melihat polanya sama dengan kondisi tahun sebelumnya, pertumbuhan impor cukup tinggi," jelas Agus ditemui di Kementerian Keuangan, Selasa (13/3).

Nantinya, menurut Agus, kinerja neraca perdagangan masih mengalami defisit pada Februari 2018. Kendati begitu, ia yakin impor ini bisa menopang produktivitas karena sebagian besar impor adalah bahan baku dan barang modal.

BPS sendiri mencatat, bahan baku dan barang modal masing-masing mengambil porsi 74,58 persen dan 16,48 persen dari jumlah impor Januari 2018 yakni US$15,13 miliar.

"Diperkirakan bulan Februari neraca perdagangan akan defisit dan ini sesuai dengan forecast kami bahwa defisit transaksi berjalan sepanjang tahun 2018 akan berada di angka 2,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau melebar dari tahun lalu 1,7 persen dari PDB," papar dia.

Di sisi lain, ia juga menilai pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga masih ada di kisaran 5 persen yang ditopang aliran bantuan sosial sudah digelontorkan pemerintah di awal tahun ini.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per Februari 2018, belanja bantuan sosial sudah mencapai Rp13,9 triliun atau 18 persen dari pagu APBN 2018 yakni Rp77,3 triliun.

Namun, menopang konsumsi tak hanya sekadar dengan bantuan sosial. Ia menuturkan, inflasi tentu perlu dijaga agar daya beli masyarakat tak memburuk.


"Kemarin pemerintah sudah mengeluarkan statement harga BBM dan listrik akan ditahan, sehingga komponen administered prices dalam inflasi akan terkendali. Secara umum, sumber pertumbuhan ekonomi 2018 nanti tetap dari ekspor, investasi, dan konsumsi," papar dia.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2017 sebesar 5,07 persen atau meningkat dibanding tahun sebelumnya 5,03 persen. Pertumbuhan ini disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 56,13 persen, penanaman modal tetap bruto 32,16 persen, dan ekspor yang tumbuh 20,37 persen. (lav)