Defisit Perdagangan Dua Bulan Berturut-turut Ancam Ekonomi

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 15/03/2018 15:52 WIB
Defisit Perdagangan Dua Bulan Berturut-turut Ancam Ekonomi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberi keterangan kepada para wartawan di Gedung BPS, Jakarta. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Defisit neraca perdagangan yang terjadi selama dua bulan berturut-turut dinilai bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 menurun dibandingkan kuartal IV 2017 yang tercatat 5,19 persen dalam perhitungan tahunan (year on year/YoY).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pengaruh defisit neraca perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin akut jika neraca perdagangan bulan Maret nanti tak kunjung surplus.

Menurut dia, dibutuhkan kinerja ekspor dan surplus yang baik agar pertumbuhan ekonomi kuartal I bisa membaik. Sebab, ekspor netto merupakan salah satu komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi selain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.



"Defisit perdagangan Januari dan Februari mengoreksi (pertumbuhan ekonomi) ke bawah, tapi kami berharap bulan Maret bisa surplus sehingga bisa mengompensasi defisit di dua bulan ini," jelas Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (15/2).

Ia melanjutkan, tentu dibutuhkan strategi agar Indonesia bisa lepas dari jeratan defisit. Pertama, Indonesia harus bisa diversifikasi produk dan tak melulu bergantung pada Sumber Daya Alam (SDA) dan komoditas yang rentan terhadap harga. Ini mengingat US$7,82 miliar dari ekspor dua bulan pertama 2018 berupa hasil pertanian, pertambangan, dan migas.

Tak hanya itu, Indonesia juga harus bisa memproduksi bahan baku industri agar ketergantungan atas bahan baku impor bisa berkurang. Menurut data BPS, impor bahan baku sepanjang Januari dan Februari tercatat US$22,05 miliar atau 74,67 persen dari total impor senilai US$29,52 miliar.

"Sekarang ini kan masih ekonomi dengan biaya tinggi, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan," tutur dia.

Suhariyanto menambahkan BPS juga akan memantau neraca perdagangan di masa-masa mendekati hari raya Idul Fitri dan bulan Desember mengingat tren tahunan defisit terjadi di masa-masa itu. Ia meyakini neraca perdagangan Maret akan kembali surplus lantaran defisit bulan Februari tercatat US$120 juta atau membaik dibanding bulan sebelumnya yakni US$670 juta.


"Kami harap neraca perdagangan bisa kembali surplus setelah tiga bulan lamanya mencatat defisit," pungkas dia.

Data BPS menunjukkan akumulasi defisit dalam dua bulan pertama 2018 mencapai US$780 juta. Defisit di awal tahun ini merupakan pertama kalinya sejak tahun 2013 silam. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, neraca perdagangan tercatat surplus US$2,69 miliar. (lav/bir)