Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut Menteri Perdagangan yang akan melakukan lawatan khusus tersebut. Tetapi, ia tak menjelaskan kapan pertemuan akan berlangsung.
"Kesan antara sesama negara emerging countries (negara berkembang) ya seharusnya bicara dulu," ujarnya, Jumat (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, India selalu mengingatkan Indonesia agar mengekspor komoditas dari India. Sebab, neraca perdagangan Indonesia terhadap India selalu terpaut jauh. RI mencatat surplus cukup besar. Namun, India, defisit cukup signifikan setiap berdagang dengan Indonesia.
Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor nonmigas tahun lalu ke India tercatat US$13,94 miliar, sedangkan impor nonmigas terbilang di angka US$3,7 miliar. Artinya, Indonesia mengalami suprlus perdagangan sebesar US$10,24 miliar.
Sebelumnya, India berencana untuk meningkatkan tarif bea masuk CPO dari angka saat ini 15 persen dan produk turunannya sebesar 25 persen menjadi masing-masing 44 persen dan 54 persen. Padaha,l sebelumnya, tarif bea masuk tersebut baru naik dua kali lipat dari tahun lalu sebesar 7,5 persen.
Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO ke India tercatat 7,63 juta ton atau naik 32,01 persen dari tahun sebelumnya 5,78 juta ton. Angka ekspor itu mencapai 24,05 persen dari total ekspor CPO Indonesia sebesar 31,05 juta ton. (bir)