Bea Masuk Kelapa Sawit Bakal Naik, RI Temui India

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 16:39 WIB
Bea Masuk Kelapa Sawit Bakal Naik, RI Temui India Pemerintah Indonesia akan menemui Pemerintah India terkait rencana India menaikkan bea masuk impor minyak kelapa sawit hingga tiga kali lipat. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Indonesia akan menemui Pemerintah India terkait rencana India menaikkan bea masuk impor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) hingga tiga kali lipat dari ketentuan awal. Pemerintah akan melakukan negosiasi untuk menjaga hubungan diplomatik antar dua negara.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut Menteri Perdagangan yang akan melakukan lawatan khusus tersebut. Tetapi, ia tak menjelaskan kapan pertemuan akan berlangsung.

"Kesan antara sesama negara emerging countries (negara berkembang) ya seharusnya bicara dulu," ujarnya, Jumat (16/3).



Selama ini, India selalu mengingatkan Indonesia agar mengekspor komoditas dari India. Sebab, neraca perdagangan Indonesia terhadap India selalu terpaut jauh. RI mencatat surplus cukup besar. Namun, India, defisit cukup signifikan setiap berdagang dengan Indonesia.

Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor nonmigas tahun lalu ke India tercatat US$13,94 miliar, sedangkan impor nonmigas terbilang di angka US$3,7 miliar. Artinya, Indonesia mengalami suprlus perdagangan sebesar US$10,24 miliar.

Jadi, untuk mencari jalan keluar yang sama-sama menyenangkan kedua belah pihak, lebih baik kedua negara berdiskusi terlebih dulu. "Ya, nanti akan dilihat bagaimana enaknya. Yang penting bicara dulu," imbuh Darmin.


Sebelumnya, India berencana untuk meningkatkan tarif bea masuk CPO dari angka saat ini 15 persen dan produk turunannya sebesar 25 persen menjadi masing-masing 44 persen dan 54 persen. Padaha,l sebelumnya, tarif bea masuk tersebut baru naik dua kali lipat dari tahun lalu sebesar 7,5 persen.

Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO ke India tercatat 7,63 juta ton atau naik 32,01 persen dari tahun sebelumnya 5,78 juta ton. Angka ekspor itu mencapai 24,05 persen dari total ekspor CPO Indonesia sebesar 31,05 juta ton. (bir)