Bankir dan Pengusaha Tunggu Terobosan Perry Warjiyo

Yuli Yanna Fauzie & SAH, CNN Indonesia | Rabu, 28/03/2018 20:27 WIB
Bankir dan Pengusaha Tunggu Terobosan Perry Warjiyo Perry Warjiyo diharapkan dapat mengeluarkan terobosan guna menstabilkan nilai tukar rupiah dan mendorong perekonomian setelah resmi menjadi Gubernur BI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kalangan perbankan dan pengusaha menyambut lolosnya Perry Warjiyo dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) Gubernur Bank Indonesia (BI) yang digelar Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada hari ini, Rabu (28/3). Perry diharapkan dapat mengeluarkan terobosan guna menstabilkan nilai tukar dan mendorong perekonomian, serta mamacu pertumbuhan kredit perbankan.

Ketua Himpunan Bank-bank Negara (Himbara) Maryono menilai keputusan Komisi XI DPR tepat lantaran Perry memang sosok yang mumpuni untuk memimpin dan menjalankan fungsi bank sentral nasional ke depan sebagai regulator moneter dan makroprudensial.

"Ini pilihan yang tepat karena Perry selama ini punya track record (rekam jejak) yang baik, sehingga harapannya bisa menstabilkan nilai rupiah dan inflasi," ucap Maryono kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/3).


Tak hanya itu, Maryono melihat, Perry juga akan segera membuat terobosan kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan industri bank, khususnya mendongkrak pertumbuhan kredit bank. Namun, ia belum ingin menyebut kebijakan apa yang paling ditunggu oleh industri bank dari bos baru BI.

Namun, Maryono melihat, tantangan Perry bukan hanya mengatasi tekanan kebijakan ekonomi global yang akhir-akhir ini berdampak besar ke Indonesia.Perry juga dihadapkan pada tantangan lain, yaitu mengatasi pesatnya perkembangan perusahaan teknologi berbasis layanan keuangan (financial technology/fintech).

"Semoga ini disikapi dengan membuat terobosan untuk memfasilitasi perkembangan fintech yang begitu cepat," imbuhnya.


Senada, Direktur Utama PT Bank Mayapada International Tbk, Harjono Tjahjarijadi berharap Perry mampu menjaga inflasi dan kurs rupiah sesuai fundamental ekonomi Indonesia. Jika sukses melakukan keduanya, Harjono melihat, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang terdongkrak dan ikut pula mendongrak bisnis perbankan.

"Diharapkan dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, khususnya di sektor riil, bisa meningkatkan permintaan (demand) masyarakat akan kredit bank," katanya.

Selain itu, Harjono berharap, Perry dapat memperkuat digitalisasi di sistem pembayaran nasional. Pasalnya, ia melihat, ini merupakan tantangan besar yang tak hanya dihadapi oleh Indonesia, namun juga negara-negara di dunia.

Adapun Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Iman Nugroho Soeko melihat, kebijakan Perry ke depan sedikit banyak akan melanjutkan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Agus Marto dan itu hal yang baik.

"Artinya, ada kesinambungan kebijakan dan saya rasa itu baik untuk perekonomian Indonesia, khususnya di bidang moneter dan makroprudensial perbankan," tuturnya.


Saat ini menurut Iman, kebijakan yang dinanti industri perbankan dari Perry adalah pelonggaran kebijakan makroprudensial, yakni melalui penurunan kas pencadangan bank di BI (Giro Wajib Minimum/GWM).

"Untuk pelonggaran, caranya dengan menurunkan GWM dari posisi saat ini yang sebesar 6,5 persen," katanya.

Ia bilang, pelonggaran ini penting lantaran BI tak punya ruang lagi untuk memberi pelonggaran dari sisi moneter, yaitu melalui penurunan suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR). Sebab, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve akan mengerek suku bunga acuannya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar berharap Perry mampu menstabilkan nilai tukar rupiah yang kini tengah bergejolak terhadap dolar AS.

"Tentunya harapannya, kita punya ekonomi moneter bisa lebih stabil karena terakhir, sedikit ada gejolak juga kurs rupiah kita," jelas dia.


Menurutnya, sosok Perry Warjiyo tepat mengisi posisi Gubernur BI, karena Perry berasal dari internal BI dan paham betul mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ke depan. Sanny juga berharap Perry dapat membuat manajemen di BI lebih solid lagi.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Roy Mandey berharap BI dapat lebih berpihak pada dunia usaha dalam menentukan kebijakan-kebijakan moneternya. Ia juga menulai Perry harus siap menghadapi perkembangan teknologi finansial yang saat ini tengah berkembang dengan cepat.

"Misalnya bicara tentang electronic payment, itu sudah mulai mendominasi untuk memberi kemudahan bagi masyarakat. BI harus bisa menghadapi itu melalui kebijakan-kebijakannya," kata Roy saat dihubungi terpisah.

Terakhir, Roy meminta BI untuk lebih menyinergikan peraturan-peraturannya dengan Kementerian dan Lembaga terkait. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan BI diharapkan dapat meningkatkan stabilitas, daya saing, serta ekonomi Indonesia. (agi/agi)