Muamalat Cari 'Pacar', OJK Klaim Tak Ingin Ikut Campur

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 29/03/2018 20:22 WIB
Muamalat Cari 'Pacar', OJK Klaim Tak Ingin Ikut Campur PT Bank Muamalat Indonesia Tbk saat ini tengah mencari investor baru guna menyuntikkan permodalan pada bank tersebut. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku tak ingin ikut campur dalam pencarian investor baru yang tengah dilakukan oleh PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, setelah 'putus' dengan PT Mina Padi Sekuritas Tbk.

Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengibaratkan, pencarian investor baru oleh Bank Muamalat, seperti halnya mencari pacar. Kecocokan antara bank dengan investor pun harus dirasakan oleh keduanya sebelum memutuskan untuk menjalin kerja sama.

"Kalau mau akuisisi atau berpartner itu ibarat orang pacaran. Kalau nanti tidak cocok, pisah, ya biarkan saja. OJK tidak ada masalah, masa kami paksa?" ujar Heru di kantornya, Kamis (29/3).



Menurutnya, sebagai wasit industri jasa keuangan, OJK hanya bisa memfasilitasi kerja sama yang dilakukan bank dengan calon investornya jika telah mencapai kesepakatan. Bila keduanya telah sepakat, barulah kerja sama itu dilaporkan ke OJK dan regulator memberikan restunya.

"Kalau mereka baru berminat, bicara dulu saja dengan pemiliknya. Kalau pemiliknya cocok, harganya cocok, pasti mereka akan datang ke kami. Kalau mereka sudah sepakat, baru kami fasilitasi," katanya.

Sayangnya, Heru belum ingin memberitahu investor mana yang sedang mengadakan penjajakan dengan Bank Muamalat. Selain itu, ia juga tak ingin memberi gambaran seperti apa kesehatan bank murni syariah pertama di Indonesia itu.

Sesuai aturan OJK, investor yang ingin memiliki saham 25 persen ke atas dan menjadi Pemegang Saham Pengendali (PSP) pada perbankan harus terlebih dahulu melewati proses uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) yang dilakukan lembaga tersebut.


Sebelumnya, Bank Muamalat dan Mina Padi telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat pada Oktober 2017 dengan skema penerbitan saham baru melalui right issue sebesar Rp4,5 triliun.

Bahkan, Mina Padi sudah menyetor dana Rp1,7 triliun ke rekening escrow sebagai 'tanda jadi'. Namun, skema ini ditolak dan sampai sekarang tak ada kelanjutannya.

Belakangan, Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K. Permana mengaku sudah ada beberapa 'pasang mata lain' yang melirik perusahaan dan tengah melakukan penjajakan lebih lanjut. Sayangnya, Permana belum ingin memberi bocoran siapa para investor itu.

"Kalau yang lirik banyak, yang kedip bahkan juga banyak, tapi kan kami belum 'nikah', belum akad terima nikahnya Bank Muamalat dengan siapa seperti itu," katanya. (agi/agi)