Bisnis Jepang Memburuk Pertama Kalinya dalam 2 Tahun Terakhir

SAH, CNN Indonesia | Senin, 02/04/2018 11:18 WIB
Bisnis Jepang Memburuk Pertama Kalinya dalam 2 Tahun Terakhir Ilustrasi. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sentimen bisnis jepang memburuk dalam tiga bulan terakhir terhitung sejak Januari - Maret 2018. Ini pertama kalinya dalam dua tahun terakhir. Survei bank sentral pada Senin (2/4) menunjukkan kenaikan biaya bahan baku dan masalah tenaga kerja kian membebani pemulihan stabilisasi ekonomi Jepang.

Analis menilai ketakutan akan perang dagang yang dipicu oleh pengenaan tarif atas barang-barang dari China oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat semakin memicu sentimen negatif terhadap korporasi di Jepang.

Meskipun, beberapa analis menyebut peluang perbaikan ekonomi masih akan berjalan karena banyak perusahaan yang masih berencana untuk belanja modal.



"Penguatan yen sejak akhir Januari telah mengikis sentimen produsen, namun fundamental ekonomi global yang solid cukup membantu. Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kepercayaan bisnis tetap ada, "tutur Ekonom Barclays Securities Yuichiro Nagai seperti dilansir Reuters, Senin (2/4).

Yuichiro menyebut kekhawatiran akan perang dagang memiliki dampak yang tak terlalu besar terhadap sentimen bisnis sejauh ini. Namun, kebijakan proteksionisme AS dapat membebani prospek bisnis kedepannya.

Tercatat, Indeks kepercayaan produsen besar turun dua poin menjadi 24 poin pada Maret ini. Kemudian, survei kuartal-an Tankan Bank of Japan menunjukkan hasil yang kurang lebih sama dengan perkiraan pasar, yaitu sebesar 25 poin.


Selanjutnya, sentimen non-produsen melemah dua poin menjadi 23, bertentangan dengan rata-rata proyeksi pasar yang sebesar 24 poin. Angka tersebut merosot untuk pertama kalinya sejak enam kuartal terakhir.

Proyeksi Tankan menunjukkan kondisi produsen besar dan non-produsen masih akan lemah selama tiga bulan ke depan. Hal itu mencerminkan ketidakpastian yang membayangi dampak dari kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump dan penguatan yen.

Produsen besar mengharapkan dolar dapat bergerak di kisaran 109,66 yen per dolar AS sepanjang tahun 2018 atau di atas level saat ini yang sebesar 106 yen per dolar AS.


Apabila yen tetap menguat, produsen terpaksa memangkas perkiraan laba mereka. Hal tersebut menjadi pertanda buruk bagi upaya Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jepang dengan kebijakannya.

Kekurangan tenaga kerja juga menjadi sentimen buruk terhadap perbaikan ekonomi Jepang. Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, restoran, dan perhotelan mengeluhkan dampak dari kurangnya tenaga kerja.

Lebih lanjut, perusahaan yang bergerak di bahan-bahan mentah, seperti produsen baja dan bahan tekstil juga melihat sentimen buruk atas meningkatnya harga bahan baku.

Namun, Tankan menyebut perusahaan besar tetap akan menaikan belanja modalnya sebesar 2,3 persen pada tahun ini berlawanan dengan rata-rata estimasi keuntungan yang sebesar 0,6 persen. (bir)