BI dan REI Sepakat Tukar Data dan Informasi Properti

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 02/04/2018 12:52 WIB
BI dan REI Sepakat Tukar Data dan Informasi Properti Bank Indonesia (BI) dan Real Estat Indonesia (REI) bersepakat melakukan pertukaran data dan informasi yang akurat terkait properti, terutama sektor perumahan. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) dan Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) bersepakat melakukan pertukaran data dan informasi yang akurat terkait properti, terutama sektor perumahan.

Kerja sama itu tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) terkait pengumpulan dan pertukaran data properti antara kedua pihak di Jakarta, Senin (2/5).

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan data dan informasi yang akurat sangat dibutuhkan oleh bank sentral untuk menyusun kebijakan yang tepat.



Dengan informasi yang lebih menyeluruh, baik dari sisi pelaku industri properti, konsumen, maupun perbankan, bank sentral berharap bisa menetapkan kebijakan yang memberikan manfaat optimal untuk mendorong sektor properti.

"Kami membutuhkan data regional. Diharapkan ada akselerasi pertumbuhan (sektor properti, konsumen, dan perbankan) dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian bagi lembaga keuangan penyalur pembiayaan," ujar dalam acara penandatanganan MoU dengan REI di Gedung Sjafruddin Prawiranegara BI, Senin (2/4).

Mirza mengungkapkan penyaluran kredit ke sektor properti masih belum pulih. Sepanjang tahun lalu, penyaluran kredit ke sektor konstruksi hanya tumbuh 15, 48 persen melambat dibandingkan tahun sebelumnya, 20,33 persen. Kemudian, sektor real estat hanya tumbuh 5,67 persen dari sebelumnya 22,22 persen. Sedangkan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh 10,53 persen.

Ketua Umum REI Soelaeman Soemawinata memastikan anggota REI akan memberikan data empiris yang dibutuhkan BI dalam menyusun kebijakan. Data yang dimaksud seperti rencana ekspansi, penjualan, hingga hambatan yang dialami di lapangan.


"Kami berbahagia bisa bekerja sama dengan BI. Saya sudah bilang ke teman-teman, tolong berikan data yang akurat mengenai industri properti di Indonesia," ujar Soelaeman.

Soelaeman mengungkapkan, pelaku industri properti lebih optimistis dalam menghadapi tahun ini. Berdasarkan informasi yang diterimanya, 10 perusahaan properti besar di Indonesia berani memasang target akumulasi omzet hingga Rp40 triliun tahun lalu. Padahal, tahun lalu omzetnya hanya berkisar Rp32 triliun.

Tak ayal, Soelaeman memperkirakan pertumbuhan sektor properti tahun ini berpotensi mencapai dua digit. Terlebih, pemerintah juga berkomitmen untuk mempermudah perizinan. Sektor yang diyakini Soelaeman bakal menggeliat adalah sektor residensial kelas menengah.

Namun demikian, menurut Soelaeman, sektor properti masih memerlukan dorongan untuk bisa kembali pulih. Misalnya, kebijakan LTV spasial sesuai permintaan di daerah bisa mendorong ekspansi properti mengingat pertumbuhan ekonomi masing-masing regional berbeda. Namun, kebijakan di sektor properti tidak akan mumpuni tanpa disertai data. Karenanya, REI berkomitmen untuk membantu bank sentral.

Selain pertukaran data dan informasi, kerja sama ini juga mencakup pengembangan kompetensi sumber daya manusia melalui focus group discussion, penelitian bersama, seminar, dan sosialisasi, serta kerja sama lainnya yang disepakati BI dan REI.

(lav/bir)