Pasokan Apartemen di Jakarta Bakal Kian Melimpah Tahun Ini

Antara & Agustiyanti, CNN Indonesia | Senin, 09/04/2018 06:43 WIB
Pasokan Apartemen di Jakarta Bakal Kian Melimpah Tahun Ini Pasokan apartemen di wilayah Jakarta diperkirakan bakal meningkat di tahun ini, kendati permintaan tak akan berbeda signifikan dibanding tahun lalu. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konsultan properti Colliers International memperkirakan pasokan apartemen di wilayah DKI Jakarta bakal meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini seiring banyaknya proyek apartemen yang terus dibangun hingga tahun ini.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menjelaskan bahwa kenaikan pasokan apartemen antara lain disebabkan adanya kemajuan pada sejumlah proyek apartemen yang pembangunannya sempat melambat. Melambatnya pembangunan apartemen seiring adanya masalah perizinan pada beberapa proyek, serta penjualan unit yang melambat.

"Permintaan diperkirakan tidak akan berbeda signifikan, akibat dari pasokan yang banyak pada tahun 2018," ujar Ferry, seperti dikutip dari Antara, Senin (9/4).



Ia berpendapat bahwa kebijakan pemerintah yang ingin mempermudah izin masuk bagi ekspatriat ke Indonesia belum akan mendongkrak tingkat okupansi karena masih banyaknya tambahan pasokan ke depannya.

Sebelumnya, survei Property Affordability Sentiment Index H1-2018 mengungkapkan, masyarakat Indonesia dinilai semakin meminati apartemen sebagai hunian. Survei tersebut menunjukkan 60 dari 63 responden yang berencana membeli hunian dalam waktu enam bulan ke depan tertarik memilih apartemen sebagai hunian mereka.


Pasalnya, apartemen dinilai memiliki keunggulan dari segi lokasi dan fasilitasi bila dibandingkan dengan rumah tapak.

Sementara itu, berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia, pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen (KPR dan KPA) per Februari 2018 tumbuh 12,2 persen secara tahunan, naik dibanding bulan sebelumnya sebesar 11,7 persen. Sementara itu kredit konstruksi pada periode yang sama turun signifikan dari 20,1 persen pada Januari 2018 menjadi 15,7 persen. (agi)