Koreksi IHSG jadi Momen Tepat Borong Reksa Dana

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Rabu, 11/04/2018 12:31 WIB
Koreksi IHSG jadi Momen Tepat Borong Reksa Dana Ilustrasi uang. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rilis data ekonomi nasional dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai menjadi momentum tepat bagi para investor untuk memarkirkan duit mereka di keranjang reksa dana saham pada April 2018.

Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth Ivan Jaya bilang saat ini merupakan peluang bagi para investor untuk meningkatkan alokasi investasi pada portofolio aset ekuitas mereka. Apalagi, riset IMF dan World Bank menyebut potensi ekonomi Indonesia bertumbuh lebih baik pada tahun ini.

"Terjadinya koreksi pasar saat ini memberikan peluang bagi investor untuk menyesuaikan portofolio investasidi pasar saham dan obligasi berdasarkan profil risiko di tahun ini," kata Ivan, mengutip Antara, Rabu (11/4).



Adapun, faktor utama yang membuat pasar ekuitas terkoreksi adalah eksternal luar negeri, seperti isu proteksionisme yang membuat pelaku pasar melakukan sell off (penjualan sekuritas dan komoditas secara intens yang dipicu oleh penurunan harga) pada aset ekuitas.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium sebesar 25 persen dan 10 persen, termasuk mengerek tarif impor produk-produk dari China memberikan sentimen negatif pada pelaku pasar global.

Akibatnya, risiko perang dagang berdampak nyata pada turunnya ekspor dan naiknya inflasi negara terkait.


Seperti diketahui, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi cukup signifikan sejak Maret 2018, setelah mengalami kenaikan cukup panjang usai pemilihan presiden AS yang memenangkan Donald Trump.

Sisi positifnya, Indonesia sebagai negara yang tidak terlalu menggantungkan diri dari ekspor, memiliki risiko yang lebih kecil terjebak dalam perang dagang.

Berdasarkan data World Bank, ekspor RI berkontribusi 19 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, terpaut jauh dibanding Malaysia dan Thailand yang masing-masing mencapai 68 persen dan 69 persen.


Di sisi lain, data dalam negeri saat ini menunjukkan impor RI meningkat pada awal tahun ini yang didorong oleh peningkatan permintaan konsumsi. (Antara/bir)