SKK Migas: Ada 74 Cekungan Belum Terjamah

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 16/04/2018 14:58 WIB
SKK Migas: Ada 74 Cekungan Belum Terjamah SKK Migas mendorong lebih banyak investasi eksplorasi migas baru, mengingat baru 18 cekungan (basin) yang berproduksi dari total 128 basin. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus (SKK) Minyak dan Gas (Migas) mendorong lebih banyak investasi eksplorasi migas baru. Pasalnya, dari 128 cekungan (basin) yang ada, baru 18 yang melakukan produksi. Sementara, 12 cekungan telah dilakukan pengeboran dengan penemuan, dan 24 cekungan telah dilakukan pengeboran tanpa penemuan.

Sementara sisanya 74 cekungan masih belum terjamah. "Ini peluang bagi industri hulu untuk memacu eksplorasi. Peluangnya besar karena ada 74 basin belum dieksplorasi," ujar Arief Setiawan Handoko, Sekretaris Jenderal SKK Migas, Senin (16/4).

Menurut dia, kegiatan eksplorasi penting untuk menakar cadangan minyak yang akan memengaruhi produksi minyak. Apalagi, produksi minyak Indonesia terus turun.



Pada 1974 silam, produksi minyak domestik bisa mencapai 1,7 juta barel per hari (bph). Namun, per Maret 2018, produksi minyak Indonesia hanya ada di kisaran 800 ribu bph.

Karenanya, perlu upaya penambahan kegiatan eksplorasi dalam negeri dengan untuk mengerek cadangan minyak Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan minyak terbukti Indonesia hanya sebesar 3,3 miliar.

Dengan asumsi produksi minyak konstan 800 ribu bph, Indonesia tidak mampu memproduksi minyak lagi dalam 11 hingga 12 tahun ke depan.


Lebih lanjut Arief menuturkan, kegiatan investasi eksplorasi juga dipengaruhi oleh harga minyak. Pada beberapa tahun terakhir, harga minyak sempat anjlok. Akibatnya, kegiatan investasi eksplorasi tersendat. Alokasi investasi investor juga lebih banyak ke sektor eksploitasi dibandingkan eksplorasi.

Berdasarkan proyeksi SKK Migas, nilai investasi WK eksplorasi pada 2018 diperkirakan hanya mencapai US$1,8 miliar. Kemudian, US$2,1 miliar pada 2019 dan US$2,04 miliar pada 2020.

Sementara, nilai investasi di wilayah kerja (WK) eksploitasi diperkirakan mencapai US$13,36 miliar pada tahun ini. Tahun depan, investasi eksploitasi ditaksi naik menjadi US$14,35 miliar dan pada 2020 menjadi US$14,20 miliar. (bir)