Harga Minyak 'Nangkring' di Level Tertinggi Sejak 2014

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 20/04/2018 07:59 WIB
Harga Minyak 'Nangkring' di Level Tertinggi Sejak 2014 Harga minyak mentah bertahan di level tertingginya sejak 2014 lalu pada perdagangan Kamis (20/4). Harga minyak berjangka Brent naik jadi US$73,78 per barel. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah bertahan di level tertingginya pada perdagangan Kamis (20/4), waktu Amerika Serikat (AS). Harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,3 menjadi US$73,78 per barel.

Sepanjang sesi perdagangan, harga acuan global tersebut sempat menyentuh level US$74,75 per barel, tertinggi sejak 27 November 2014 yang merupakan hari di mana Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk memompa minyak sebanyak mungkin untuk mempertahankan pangsa pasar.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot tipis US$0,18 menjadi US$68,29 per barel setelah sempat menyentuh US$69,56 per barel, tertinggi sejak 28 November 2014. Harga WTI telah menanjak hampir delapan persen selama delapan hari perdagangan terakhir.



Mengutip Reuters, Jumat (20/4), panel gabungan OPEC dan non-OPEC menilai kelebihan pasokan minyak global telah dieliminasi berkat kesepakatan pemangkasan pasokan sejak Januari 2017.

"Secara keseluruhan, persamaan penawaran dan permintaan cukup seimbang," ujar Direktur Pelaksana BTU Analytics Anthony Scott di Denver.

Pada titik ini, lanjut Scott, pasar akan bergantung pada ekspektasi di mana pelaku akan mencoba melihat sinyal berikutnya, baik yang bersifat mendorong harga (bullish) maupun yang bersifat menekan harga (bearish).


Pedagang menyatakan para spekulator terus menempatkan taruhannya pada sisi atas, berharap pada potensi gangguan terhadap pasokan dan berlanjutnya penurunan stok akibat kuatnya permintaan.

Lebih dari 830 ribu kontrak awal bulan yang berpindah tangan pada New York Mercantile Exchange CME Group pada Kamis (19/4), lebih tinggi dibanding dengan rata-rata harian yang hanya sekitar 615 ribu.

Investor terus mencermati pergerakan harga minyak mentah AS ke level US$70 per barel. Namun, kemungkinan pergerakan menghadapi hambatan, khususnya seiring laju dan besarnya reli baru-baru ini yang memberikan tekanan aksi jual.


"Saya pikir, pasar dapat melihat harga US$70 per barel dengan cepat, namun saya ingin memperingatkan bahwa mungkin kita akan melihat pasar sedikit turun dalam beberapa pekan," imbuh Analis Pric Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Sumber Reuters menyatakan bahwa Pertemuan Gabungan Komite Teknis OPEC yang berlangsung pekan ini menemukan persediaan minyak mentah di negara maju pada Maret 2018 hanya sekitar 12 juta barel di atas rata-rata lima tahunan.

Kendati demikian, Menteri Perminyakan Oman Mohammed bin Hamad Al Rumhi menyatakan ia masih berpikir bahwa kelebihan pasokan masih terjadi di pasar.


Reuters melaporkan pada Rabu lalu bahwa Arab Saudi akan senang jika harga minyak mentah dunia bisa menyentuh US$80 atau bahkan US$100 per barel. Hal ini menandakan bahwa negara eksportir utama minyak dunia ini tidak akan berupaya mengubah kesepakatan pemangkasan pasokan.

Selain itu, harga minyak juga ditopang oleh kemungkinan AS mengenakan sanksi kembali terhadap Iran, produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, yang dapat mengurangi pasokan minyak dunia lebih jauh. (bir)