Agar Neraca Dagang Surplus, Setop Andalkan Komoditas SDA

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Sabtu, 21/04/2018 14:19 WIB
Agar Neraca Dagang Surplus, Setop Andalkan Komoditas SDA Ilustrasi komoditas batu bara. (Thinkstock/Adam88xx).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap ekspor Indonesia tidak lagi bergantung terhadap komoditas sumber daya alam (SDA). Hal ini dilakukan untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia agar bisa terus surplus.

Apalagi, saat ini, beberapa negara tengah melaksanakan perang dagang yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan harga komoditas. Tidak hanya perang dagang, Darmin juga khawatir tensi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah bisa bikin harga minyak tak stabil, sehingga bisa-bisa nilai impor minyak Indonesia melonjak.

"Makanya, seharusnya andalan ekspor berupa komoditas tak bisa dilakukan lama-lama, karena kondisinya saat ini dunia lagi tekan menekan soal dagang," jelasnya ditemui di kantornya, Jumat (20/4).



Sebetulnya, ia cukup senang dengan posisi neraca perdagangan Maret yang akhirnya mencapai kondisi surplus setelah sebelumnya dirundung defisit dua bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Maret surplus US$1,09 miliar dan berhasil mencetak neraca perdagangan surplus US$282,8 juta pada kuartal pertama ini.

Hanya saja, sebagian ekspor itu masih ditopang oleh perbaikan komoditas SDA. Di Maret kemarin contohnya, kinerja ekspor sebesar US$15,58 miliar disebabkan karena perbaikan ekspor besi dan baja, bijih kerak dan abu logam, hingga bahan bakar mineral.

"Kalau begini, susah untuk memprediksi surplus neraca perdagangan dari bulan per bulan," imbuh dia.

Makanya, pemerintah harus bergerak agar ekspor Indonesia lepas perlahan dari dominasi komoditas SDA. Salah satunya dengan memperbesar investasi di sektor hilirisasi SDA agar ekspor Indonesia bisa memiliki nilai tambah yang cukup mumpuni.


Ia berharap, permudahan berinvestasi melalui sistem perizinan investasi terintegrasi (online single submission) yang akan diluncurkan 20 Mei 2018 mendatang bisa mengundang investasi di sektor manufaktur tingkat tinggi.

"Komoditas memang penting, tapi ke depan kami ingin ekspor membaik dari industri. Itu lebih sustain menjaga neraca perdagangan," terang dia.

BPS mencatat, ekspor Indonesia selama Maret berada di angka US$15,58 miliar, sementara impornya ada di angka US$14,49 miliar. Artinya, tercipta surplus neraca perdagangan sebesar US$1,09 miliar. Sebelumnya, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar US$1,03 miliar. (bir)