Dolar AS Tembus Rp13.893, BI Masih Tak Khawatir

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 20/04/2018 17:37 WIB
Dolar AS Tembus Rp13.893, BI Masih Tak Khawatir Bank Indonesia mengaku tak khawatir dengan pergerakan rupiah yang menyentuh Rp13.893 per dolar AS di penutupan perdagang sore ini. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengaku tak khawatir dengan pergerakan rupiah yang pada perdagangan hari ini, Jumat (20/4), ditutup di level Rp13.893 per dolar AS.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan fluktuasi rupiah sampai hari ini masih dipengaruhi oleh pergerakan ekonomi global. Sedangkan, dari sisi fundamental, ekonomi domestik diperkirakan masih bisa memberi menjaga tekanan rupiah dari dolar AS.

"Tekanan dari global memang memperlemah kekuatan mata uang di regional, termasuk rupiah. Jadi, tetap harus dilihat apakah kekuatan domestik ini bisa menahan pelemahan rupiah," ujarnya di Kompleks Gedung BI, Jumat (20/4).



Adapun fundamental ekonomi domestik yang masih bisa menahan laju pelemahan rupiah dari dolar AS tercermin dari tingkat inflasi yang masih stabil. Tercatat, inflasi berada di kisaran 0,2 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 3,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2018.

Lebih lanjut, sambungnya, BI tetap siaga di pasar uang untuk melancarkan jurus stabilisasi rupiah dengan cara yang telah digunakan.

Cara tersebut dengan melakukan intervensi stabilisasi rupiah melalui cadangan devisa. Pasalnya, cadev masih berada di kisaran yang cukup untuk menstabilkan rupiah. Tercatat, cadev berada di angka US$126 miliar hingga akhir bulan lalu.

"Kami gunakan instrumen yang kami gunakan saat ini," imbuhnya.

Bahkan, lebih jauh Dody memastikan bahwa BI telah siap mengantisipasi pelemahan rupiah ke depan jelang pengumuman kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve, pada Juni 2018 nanti.

Menurutnya, tiga minggu atau sebulan sebelum pengumuman kenaikan suku bunga acuan The Fed (Fed Fund Rate/FFR) akan memberikan risiko lagi pada terjadinya fluktuasi rupiah.


"Pola itu selalu muncul setiap jelang kenaikan FFR, rata-rata misal sebulan atau tiga minggu akan ada tekanan secara global. Itu bukan pola yang terjadi pada rupiah saja, tapi negara lain juga dan itu sudah diantisipasi oleh BI," jelasnya.

Sebelumnya, BI telah melakukan intervensi stabilisasi rupiah menggunakan cadev sejak rupiah pertama kali melonjak ke kisaran Rp13.700 per dolar AS pada Februari lalu. Saat itu, cadev BI yang berada di kisaran US$131,98 miliar digelontorkan ke pasar hingga berkurang menjadi US$126 miliar.

Kendati begitu, pergerakan rupiah dari Februari hingga memasuki pertengahan April 2018 terus berada di kisaran Rp13.700 per dolar AS. Bahkan, pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah tergolek lesu hingga nyaris menyentuh Rp13.900 per dolar AS. (bir)