Jejak Nicke Widyawati, Dirut Sementara Pertamina

Agustiyanti, CNN Indonesia | Jumat, 20/04/2018 18:19 WIB
Jejak Nicke Widyawati, Dirut Sementara Pertamina Nicke Widyawati ditunjuk sebagai Plt Direktur Utama Pertamina, kendati baru mulai berkarier di BUMN minyak tersebut pada 27 November 2017 lalu. (Dok. Pertamina via Facebook)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengangkat Nicke Widyawati sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Pertamina (Persero), setelah mencopot Elia Massa Manik.

Nicke belum lama berkarier di Pertamina. Ia baru diangkat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) BUMN minyak tersebut pada 27 November 2017. Pada 13 Februari 2018, tugas Nicke pun bertambah, yakni sekaligus mengemban jabatan Plt Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur.

Lahir di Tasikmalaya, 25 Desember 1967, Nicke mengawali karier di bidang perbankan, hingga kontraktor. Sebelum berkarier di Pertamina, Nicke menjabat sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN (Persero) sejak 2009 lalu.


Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Master di Hukum Bisnis di Padjadjaran Bandung ini, pernah menjadi Direktur Utama PT Mega Eltra, sebuah perusahaan kontraktor listrik di lingkungan holding PT Pupuk Sriwijaya.


Nicke juga pernah menjabat direktur bisnis di PT Rekayasa Industri (Rekind) dan Vice President Corporate Strategy Unit (CSU) di perusahaan yang sama hingga akhirnya bergabung di PLN pada tahun 2014.

Deputi Bidang Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampoerno mengaku pemerintah menaruh harapan besar pada jajaran direksi baru Pertamina.


"Diharapkan, direktur-direktur baru mempercepat proyek-proyek yang sedang dikerjakan Pertamina, terutama terkait kilang," terang Fajar, Jumat (20/4).

Pencopotan direktur Pertamina dan empat direksi lainnya terjadi di tengah kasus tumpahan minyak dan kelangkaan Premium di wilayah Jabodetabek yang tengah dihadapi BUMN tersebut.

"Keputusan pemerintah (pencopotan direksi Pertamina) ini berdasarkan beberapa pertimbangan. Kondisi yang disampaikan, yakni holding migas, kejadian di Balikpapan (tumpahan minyak), dan kelangkaan BBM (Premium)," jelasnya. (agi/bir)