Terdera Risiko Global, BI Pastikan Ekonomi Masih Solid

Lavinda, CNN Indonesia | Minggu, 22/04/2018 13:49 WIB
Terdera Risiko Global, BI Pastikan Ekonomi Masih Solid Ilustrasi. BI Pastikan ekonomi Indonesia masih solid. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Mataram, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memastikan sejumlah indikator dan kondisi saat ini masih sesuai perkiraan bank sentral, dan mampu menopang kesinambungan pertumbuhan ekonomi.

Firman Mochtar, Kepala Grup Asesmen Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI mengatakan, meski defisit melebar, neraca transaksi berjalan masih berada di level aman, yakni di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Secara keseluruhan, kami sampaikan kondisi saat ini masih solid, on track (sesuai jalur). Suasana kondisi global masih tidak menentu, tapi kami optimistis," ujar Firman, Sabtu(22/4).


Tahun lalu, transaksi berjalan mengalami defisit 1,7 persen terhadap PDB, sedangkan tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 2-2,5 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit neraca perdagangan merupakan bagian dari penyesuaian aktivitas produksi domestik. Dalam beberapa waktu, terjadi peningkatan impor barang modal dan bahan baku untuk kebutuhan produksi. Ke depan, peningkatan kapasitas produksi tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan.

Nilai tukar rupiah masih terjaga, meski perlahan mengalami pelemahan. Dengan porsi cadangan devisa yang masih di level aman, Bank Sentral selalu berada di pasar untuk mengintervensi pergerakan rupiah agar tetap terjaga.

Indikator makro lain, Inflasi diklaim masih sesuai target tahunan yakni 3,5 persen +-1 persen, atau lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Dalam kurun dua tahun, bank sentral menjalankan kebijakan pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga acuan hingga 200 basispoin (bps). Meski saat ini suku bunga tetap bertahan di level 4,25 persen, namun BI menjalankan pelonggaran dari berbagai lini. Hal yang menarik, peran pembiayaan dari lembaga pembiayaan nonbank kini lebih baik.

"Suku bunga deposito dan kredit cenderung turun. Jadi, kredit intermediasi perbankan bisa lebih baik. Ini kredit juga mulai meningkat," tuturnya.

Jadi, prospek 2018 masih sesuai perkiraan awal yakni dengan pertumbuhan ekonomi 5,1-5,5 persen, dan akan lebih meningkat pada tahun depan.

Retno Ponco Windarti, Kepala Grup Riset Makroprudensial Departemen Kebijakan Makro Prudensial menilai intermediasi perbankan mulai membaik, dengan adanya pertumbuhan kredit yang signifikan.

"Kredit sudah naik, prediksi ke depan juga meningkat. Jauh dari treshold (ambang batas) 5 persen, CAR (capital adequacy ratio/ rasio kecukupan modal) sangat tinggi 23,1 persen," sebutnya.

Dari sisi korporasi, kondisi mulai mengarah pada perbaikan yang positif dengan likuiditas mumpuni. (lav/evn)