Usai Reli, Harga Minyak Cuma Menguat Satu Persen Pekan Lalu

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 23/04/2018 07:30 WIB
Usai Reli, Harga Minyak Cuma Menguat Satu Persen Pekan Lalu Di awal perdagangan Jumat lalu, harga minyak sempat tergelincir dipicu oleh cuitan kritik Presiden AS Donald Trump terhadap peran Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam mendongkrak harga minyak global. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menguat sekitar satu persen sepanjang pekan lalu atau melambat dibandingkan pekan sebelumnya, yang sempat terdongkrak hingga delapan persen.

Dilansir dari Reuters  Senin (23/8), pada penutupan perdagangan Jumat (20/3) lalu, harga minyak mentah berjangka Brent tercatat di level US$74,06 per barel atau menanjak US$0,28 secara harian.

Sementara, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni hanya naik US$0,07 menjadi US$68,4 per barel dan WTI untuk pengiriman Mei hanya menguat US$0,09 menjadi US$68,38 per barel.


Di awal perdagangan Jumat lalu, harga minyak sempat tergelincir dipicu oleh cuitan kritik Presiden AS Donald Trump terhadap peran Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam mendongkrak harga minyak global.

"Sepertinya OPEC melakukannya lagi. Dengan jumlah produksi minyak yang mencetak rekor di mana-mana, termasuk kapal-kapal yang penuh minyak di lautan, harga minyak yang sangat tinggi saat ini dibuat-buat! Tidak bagus dan tidak akan bisa diterima," ujar Trump dalam cuitan di akun Twitter resminya.

Sebagai catatan, sejak awal 2017, OPEC dan sekutunya telah bersepakat untuk memangkas produksi minyak demi mengurangi kelebihan pasokan di pasar global.

Kepala Analis Teknis United-ICAP Walter Zimmerman menilai harga minyak tetap bertahan di pasar, meskipun Trump mengeluarkan komentarnya.

"Sepertinya, harga minyak ingin menjelajahi sisi atas sedikit lagi," ujar Zimmerman.


Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo menyatakan OPEC tidak memiliki sasaran harga tertentu, namun hanya bekerja untuk mengembalikan kestabilan pasar minyak.

Awal pekan lalu, kedua harga minyak acuan dunia menembus level tertinggi sejak November 2014 di mana Brent mencapai US$74,75 per barel dan WTI US$69,56 per barel. Penguatan tersebut dipicu oleh risiko geopolitik dan pengetatan pasar.

"Hal yang bisa dilakukan (Trump) hanya mengurangi cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve/ SPR). Saat ini, saya tidak melihat indikasi bahwa pemerintahannya berencana untuk melakukan itu," ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger di New York.

Jika Trump mulai membahas kemungkinan untuk mengurangi SPR, lanjut Yawger, harga akan tertekan.


Ahli Strategi Komoditas RBC Capital Markets Michael Tran mengingatkan bahwa Trump baru-baru ini menjadi faktor pendorong (bullish) harga minyak.

"Salah satu faktor utama yang memicu reli kenaikan harga minyak adalah persepsi pasar mengenai pemerintah Trump yang mengambil stance yang lebih agresif (hawkish) dalam kebijakan luar negerinya," ujar Tran.

Selanjutnya, AS akan memutuskan apakah akan keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 12 Mei 2018 mendatang, yang akan memperketat pasokan global.

Sementara itu, pengebor minyak AS pekan lalu menambah jumlah rig minyaknya menjadi 820 rig, kenaikan untuk tiga pekan berturut-turut. Berdasarkan data perusahaan pelayanan di sektor energi Baker Hughes, jumlah tersebut tertinggi sejak 20 Maret 2015. (agi/agi)