Laba Turun, Modal Inti Bank Panin Nyaris Tembus Rp30 Triliun

Agustiyanti, CNN Indonesia | Senin, 23/04/2018 13:16 WIB
Laba Turun, Modal Inti Bank Panin Nyaris Tembus Rp30 Triliun Modal inti Bank Panin pada kuartal pertama 2018 mencapai Rp29,71 triliun, sedikit lagi mencapai batas minimal untuk masuk kelompok BUKU 4 sebesar Rp30 triliun. (musnahterinjak via wikimedia commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Panin Tbk mencatatkan modal inti perseroan di kuartal pertama tahun ini mencapai Rp29,71 triliun atau nyaris mencapai batas minimal untuk naik kelas ke kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 4 yang membutuhkan modal Rp30 triliun. Kendati modal menebal, Bank Panin mencatatkan penurunan laba bersih pada periode tersebut.

Berdasarkan laporan publikasi perseroan yang dirilis Senin (23/4), modal inti Bank Panin naik dari Rp28,43 triliun pada kuartal pertama tahun lalu menjadi Rp29,71 triliun. Dengan demikian, Bank Panin hanya membutuhkan kenaikan modal inti sekitar Rp300 miliar agar bisa sejajar dengan BCA, Bank CIMB Niaga, dan tiga bank BUMN di kelompok BUKU 4.


Bank pada kelompok tersebut, memiliki beberapa keuntungan, di antaranya dapat memiliki jaringan layanan yang lebih luas di luar negeri. Selain itu, bank kelompok ini biasanya memiliki keleluasaan pada penerapan produk atau aturan baru karena dinilai memiliki manajemen risiko yang lebih mumpuni.


Kendati modal kian tebal, Bank Panin mencatatkan penurunan laba bersih dari Rp663,26 miliar pada kuartal pertama tahun lalu menjadi Rp613,63 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Penurunan laba terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan selain bunga dari Rp442 miliar menjadi Rp304 miliar dan naiknya beban operasional dari Rp1,38 triliun menjadi Rp1,4 triliun. Padahal, pendapatan bunga bersih perseroan masih naik tipis dari Rp1,83 triliun menjadi Rp1,88 triliun.


Bank Panin juga mencatatkan penyaluran kredit tumbuh 6,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp141,15 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan hanya tumbuh 1,1 persen menjadi Rp147,32 triliun. (agi/agi)


BACA JUGA