TOP TALKS

Dody Waluyo 'Nyontek' Sang Ibu soal Kerja Keras

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Rabu, 02/05/2018 13:16 WIB
Dody Waluyo 'Nyontek' Sang Ibu soal Kerja Keras Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sosok ibu selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang, begitu juga untuk Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo. Karakter pekerja keras sang ibu terus melekat dalam dirinya sejak kecil dan menjadi pemacu gerak langkahnya dalam hidup hingga saat ini.

Menurut dia, Ibu menjadi sosol yang dominan dalam keluarganya. Sikap kerja keras selalu ditunjukan dengan selalu serius menjalani pekerjaan dan tak kenal lelah untuk menjalani hidup. Dody mengaku, ia terlahir dari keluarga yang terbatas dari segi keuangan.

"Kebetulan saat itu Ayah sedang sakit, jadi sosok seorang Ibu yang harus menangani lima orang anak laki dewasa itu juga ya menjadi contoh lah," cerita Dody kepada CNNIndonesia.com saat mengenang masa lalunya.



Tak hanya kerja keras, Dody mengakui sang Ibu juga mengajarkan kedisiplinan yang tinggi kepada lima anaknya. Hal ini termasuk soal belajar dan bekerja.

Hal yang diajarkan dan menjadi gaya hidup sang Ibu pun turut mempengaruhi Dody dalam menjalani kehidupannya. Terlebih, sang Ibu yang juga berprofesi sebagai guru saat itu menyarankan kepada semua anaknya untuk berlajar di sekolah Katolik yang terkenal dengan tingkat kedisiplinan tinggi.

"Karena saat itu belum ada sekolah-sekolah seperti saat ini, kecuali sekolah Katolik yang mengajarkan kedisiplinan tinggi," kata Dody.

Kendati demikian, orang tua Dody tetap mengajarkan dan menurunkan ilmu pengetahuan agama yang dianutnya, yakni Islam. Alhasil, sisi Islam tetap terjaga di dalam keluarga Dody.

Kehidupannya saat sekolah bisa dikatakan hampir sama dengan anak-anak pada umumnya. Khusus saat duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA), Dody lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar.


"Jadi, karena memang saya mencoba untuk mencari prestasi. Bisa cepat kuliah, cepat cari penghasilan untuk bantu-bantu orang tua," ungkap Dody.

Kala itu, ia berusaha masuk kelas jurusa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) demi mewujudkan cita-citanya menjadi dokter.

Namun, nyatanya Tuhan berkehendak lain. Meski sukses masuk kelas IPA saat SMA, tetapi Dody tidak diterima di fakultas kedokteran setelah dua kali tes ujian masuk universitas negeri.

"Lalu akhirnya saya masuk deh ke Fakultas Ekonomi (Universitas Indonesia)," kata Dody.


Menyenangkan Kuliah di Bidang Ekonomi

Sempat berpikir melenceng dari cita-cita hidupnya, Dody mencoba menjalani masa kuliahnya dengan tetap serius dan mencoba menikmati.

"Tidak terpikir sebelumnya. Ternyata pas dinikmati cukup menyenangkan," imbuh Dody.

Dody menghabiskan waktu di bangku kuliah selama empat hingga lima tahun. Ia mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi Studi Pembangunan.

Ketika kuliah, pria yang hobi olah raga ini pernah satu kali mengunjungi kantor Bank Indonesia (BI) di kawasan Thamrin untuk menghadiri paparan dari salah satu ahli ekonomi.

"Itu sekitar tahun 1984 atau 1985. Saya merasa ini kok bagus juga nih kantor ini, boleh juga mungkin nanti melamar ke sini," ucap Dody.

Namun, kalimat itu hanya kilasan angan-angan Dody semasa kuliah yang terbilang tidak serius. Pasalnya, ia berpikir untuk melamar ke perbankan usai lulus kuliah.

Manusia boleh saja berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Ungkapan tak serius Dody saat menginjakan kakinya pertama kali di BI pun menjadi kenyataan dibandingkan dengan rencananya untuk melamar ke perbankan.

"Saya masuk ke BI dan menjadi seperti ini, berkarir cukup panjang. Ini sudah mendekati 30 tahun saya di BI," tutur Dody.

Seperti diketahui bersama, Dody baru saja dilantik menjadi Deputi Gubernur BI periode 2018-2023, menggantikan Perry Warjiyo yang akan dilantik menjadi Gubernur BI dalam waktu dekat.

Dody Waluyo 'Nyontek' Sang Ibu soal Kerja KerasDody Budi Waluyo. (CNN Indonesia/Hesti Rika).

Lalu, bagaimana karir Dody selama di BI dan impian terpendam lainnya yang belum terwujud hingga saat ini. Berikut petikan wawancaranya:

Pada awalnya Anda ingin menjadi dokter, siapa yang memberikan Anda inspirasi hingga ingin menjadi dokter?

Orang tua juga berperan. Dulu kan orang tua seringkali ingin anaknya jadi dokter dan insinyur. Saya salah satunya kata mereka disuruh jadi dokter. Ya SMA nya saya di jurusan IPA jadi pelajaran-pelajaran yang mengarah ke fakultas kedokteran saya punya nilai yang cukup bagus lah di situ. Hal yang mengejutkan adalah saya tidak masuk ke fakultas kedokteran. Guru SMA saya pun ikut bingung loh kok kamu masuk ekonomi.

Tapi saya pikir-pikir saat saya lihat darah saja saya langsung pusing, jadi ya gimana saya mau jadi dokter. Ya jadi itu mungkin baru terasa di kemudian hari.

Bagaimana perjalanan Anda selama berkarir di BI?

Saya kebetulan penempatan di kantor pusat terus selama 30 tahun, ada sempat periode tiga tahun saya ke IMF di Washington. Jadi penempatan di daerah tidak pernah. Meskipun kalau kerjaan-kerjaan yang terkait Kantor Perwakilan Dalam Negeri (KPwDN) BI saya yang merancang organisasi di mereka. Sebagian besar 30 tahun tadi itu banyak dalam bidang moneter, lalu manajemen strategis lalu balik lagi ke bidang moneter.

Perjalanan di BI pun juga tidak semuanya dikatakan mulus begitu. Banyak hal-hal yang juga saya alami selama 30 tahun, tapi ya itu lagi. Saya mau jalan ke kiri ternyata jadinya ke kanan, intinya memang itu, jalanan yang harus saya yakini. Tapi paling tidak beberapa nilai hidup yang harus saya pegang pada akhirnya memang saya harus fokus. Fokus dalam hal apapun.

Kemudian memang pada akhirnya saya harus ikhtiar semaksimal mungkin. Jangan berhitung jangan berkalkulasi, artinya jangan minta sesuatu dari jerih payah atau dari apa yang saya berikan pada siapa pun.

Terakhir yang berat adalah menerima apapun dengan syukur. Kadang kala kalau tidak sesuai dengan harapan kan kadang-kadang kan ada perasaan buruk sangka. Buruk sangka misalnya saya kok seperti ini. Namun, setelah saya dalami ya realitanya memang harus seperti itu. Hikmahnya baru terasa nanti.

Sekarang sudah menjadi Deputi Gubernur BI, apa masih ada impian yang belum tercapai?

Jangan berhitung ya, biarkan saja. Setiap saat pasti ingin lebih baik lebih baik. Tapi kalau saya tidak mau kemudian langsung bermimpi jadi Deputi Gubernur lalu jadi Gubernur BI. Ya mungkin yang mengatakannya cocok atau tidak bukan saya tapi atasan saya dan apakah atasan mengatakan sudah pantas atau belum kan tidak tahu. Ya artinya lakukan saja apa yang semua bisa diberikan secara maksimal, ikhtiar.

Tapi jangan ikhtiar hanya semata-mata untuk mencari jabatan itu karena kalau seseorang berkalkulasi lalu dihitung dan hitungannya meleset, maka kadang-kadang ada rasa kecewa nya muncul.

Jadi sudahlah biarkan saja, ya memang perasaan itu harus dilawan. Itu melawan diri sendiri kok. Saya bukan sok suci tapi kadang saya juga sedih kok saya hanya seperti ini, harusnya bisa lebih dari itu. Kalau ditanya balik ke belakang apa yang belum tercapai? Ya yang pasti ada ya, saya juga merasa belum melakukan beberapa hal. Ya kadang kala mungkin itu juga ternyata saya tidak mampu melakukannya. Tapi tetap kita semua harus lebih baik dari satu waktu ke waktu lain.

Bagaimana Anda mengelola waktu?
Mengelola waktu ya harus mengambil prioritas karena kalau semua pekerjaan yang banyak saya ambil, saya semua yang kerjakan ya akan menjadi sulit mengatur waktunya.

Ini kembali ke unsur leadership, kalau sudah semakin ke atas ya seberapa seseorang mau mendelegasikan pekerjaan. Seberapa seseorang mempercayakan itu, seberapa mau orang itu untuk tidak tergoda untuk turun mengerjakan semuanya. Tapi yang penting dari semuanya itu adalah seorang pemimpin bisa memberikan arahan. Sekali bisa memberikan arahan yang jelas dan biarkan mereka yang melakukan.

Monitoring harus tetap ada, tapi tidak perlu harus yang diawasi yang terlalu ketat. Saya yakin kreativitas itu akan muncul dengan sendirinya, bisa saja anak buah lebih kreatif dari saya. Bisa saja mereka melakukan sesuatu, output lebih bagus dari saya. Sikap itu akan terbentuk kalau mereka diberikan ruangan untuk seperti itu.


Menjadi Deputi Gubernur BI mungkin akan menghabiskan waktu banyak, apa yang biasa Anda lakukan ketika ada waktu luang?
Waktu luang saya agak sempit ya. Pagi sudah berangkat, pulang agak malam. Rumah jauh, rumah saya di Cinere. Jadi butuh waktu sampai ke BI. Tapi itu menjadi waktu yang nyaman bagi saya untuk tidur di mobil. Semakin macet semakin senang.

Namun waktu menjadi kemewahan dengan keluarga, dengan anak dan istri. Makanya dukungan dari mereka itu juga sangat berharga bagi saya, tahu pekerjaan saya seperti ini. Saya bisa lebih lapang untuk pulang malam dan dinas pada akhir pekan. Tapi yang penting mereka tau juga bahwa kalau ada waktu kosong saya harus dengan mereka.

Apa yang biasanya Anda lakukan bersama keluarga jika ada waktu luang?
Lebih banyak keluar rumah ya, membawa mereka. Kalau menuruti egoisnya saya ya inginnya tidur. Tapi kalau begitu kan kapan dengan mereka. (lav/agi)