Dilansir dari Reuters, Kamis (3/5), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik US$0,23 menjadi US$73,36 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,68 menjadi US$67,93 per barel.
Sebagai catatan, permintaan minyak terkait erat dengan indikator pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah AS meningkat sebesar 6,2 juta barel pekan lalu. Hampir lima juta barel di antaranya terkonsentrasi di area West Cost.
Di sisi lain, AS mempertanyakan keseriusan Iran dalam mengimplementasikan kesepakatan pengurangan program nuklir.
Presiden AS Donald Trump telah mengancam bakal menjatuhkan sanksi kembali kepada Iran jika tidak ada penyesuaian yang dilakukan terhadap isi perjanjian.
Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh menyatakan, pada April lalu, ekspor minyak Iran menembus 2,6 juta barel per hari (bph), suatu rekor pencapaian setelah sanksi diangkat. China dan India membeli lebih dari separuh ekspor tersebut.
"Ekspektasi bahwa AS akan keluar dari kesepakatan pembebasan sanksi membuat Iran menjual (minyak) sebanyak mungkin," ujar Analis Petromatrix Olivier Jakob.
Trump bakal mengambil keputusan terkait sanksi Iran pada 12 Mei 2018 mendatang. Jika AS kembali mengenakan sanksi kepada Iran, ekspor Iran terancam berkurang.
Hansen memperkirakan pengenaan sanksi AS terhadap Iran berisiko mengurangi pasokan minyak global sebesar 300 ribu hingga 50 ribu bph.
Kendati demikian, pelaku pasar meyakini penguatan kurs dolar AS yang terjadi sejak pertengahan April dan peningkatan pasokan AS telah menahan kenaikan harga minyak lebih jauh. (lav)