Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksi BI segera meningkatkan level 7DRRR guna menjaga kurs rupiah. Pasalnya, efek kenaikan suku bunga dianggap jauh lebih besar dibandingkan hanya mengintervensi dengan cadangan devisa (cadev) seperti yang akhir-akhir ini dilakukan.
"Karena dampaknya jauh lebih besar, terutama ke pasar. Ini adalah market based policy, dampaknya memberi kepercayaan kepada pasar," ujar Andry kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/5).
Lebih lanjut, ia memperkirakan, penyesuaian 7DRRR tersebut akan dilakukan BI dengan mengerek suku bunga acuan sekitar 25-50 basis poin (bps). Menurutnya, kisaran ini cukup untuk memberi keyakinan kepada pasar, namun tidak cukup tinggi yang justru bisa menimbulkan kejutan di pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspektasi inflasi 2018 masih rendah karena pemerintah terus menjaga harga yang diatur oleh pemerintah. Kalau tahun depan, ekspektasinya sudah ke inflasi yang lebih tinggi karena memang ada tekanan yang terus berlanjut dari global," katanya.
Sementara itu, dia menilai pengunaan cadev untuk intervensi sudah cukup besar. Cadev seharusnya disimpan sebagai amunisi menghadapi tekanan rupiah yang diperkirakan masih akan terus terjadi hingga akhir tahun.
"Bahkan ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate bukan hanya sampai tahun ini, bahkan sampai 2020. Ditambah juga dengan ekspektasi terhadap US Treasury, sehingga tekanannya masih banyak ke depan," terangnya.
Dari sisi pelaku perbankan, Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi juga menilai BI kemungkinan melakukan intervensi rupiah secara langsung dengan menyesuaikan tingkat suku bunga acuan. "Bisa saja dalam RDG minggu depan, suku bunga acuan disesuaikan," ucapnya.
Terkait potensi BI akan menggunakan cadev dalam pekan ini untuk menstabilkan rupiah, ia melihat, BI tentu telah mempertimbangkan langkah tersebut. "Strategi BI tentu disesuaikan dengan data ekonomi lainnya dan selalu ada di pasar," pungkasnya. (lav)