Menko Darmin Sebut Defisit Perdagangan US$1,63 M Masih Wajar

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 18:10 WIB
Menko Darmin Sebut Defisit Perdagangan US$1,63 M Masih Wajar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai defisit perdagangan sebesar US$1,63 miliar masih wajar lantaran mengimbangi pembangunan infrastruktur. (Dok. Biro Humas Menko Perekonomian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan defisit sebesar US$1,63 miliar pada April 2018 terbilang wajar. Tingginya impor mengimbangi laju investasi dan pembangunan infrastruktur.

Ia menjelaskan, laju investasi yang tumbuh positif belakangan ini dan pembangunan infrastruktur yang semakin cepat membuat laju impor juga meningkat, bahkan melebihi kinerja ekspor dalam negeri. Walhasil, neraca perdagangan kembali defisit karena impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan investasi dan infrastruktur tersebut.

"Dengan investasi naik, pembangunan infrastruktur realisasinya makin banyak, mau tidak mau memang impor naik karena kami tidak produksi sejumlah barang yang kami butuhkan. Itu pasti butuh barang modal (dari impor)," ujar Darmin di kantornya, Selasa (15/5).


Kendati membuat impor naik dan neraca perdagangan defisit, namun Darmin melihat hal ini sejatinya tetap berpeluang memberi dampak positif pada pertumbuhan ekonomi.



Pasalnya, pada akhirnya, saat infrastruktur rampung dan investasi tersalurkan menyeluruh ke industri, maka roda industri akan bergerak dan memberikan sumbangan pada perekonomian Tanah Air ke depan.

"Karena ekonomi Indonesia secara struktural terlihat kalau pertumbuhan mulai naik, meski hanya 5,06 persen," tuturnya.

Hanya saja, ia menilai, tren impor tinggi belum tentu akan memberi dampak pada defistinya neraca perdagangan. Sebab, bila ekspor bisa digenjot lebih tinggi, bukan tidak mungkin tetap bisa mengimbangi laju impor.

"Jadi bukan impor yang harus ditekan, itu sama saja menekan pertumbuhan, yang harus ditingkatkan ekspornya. Dampak positifnya, itu seharusnya bisa mendorong ekspor untuk imbangi impor. Kalau tidak, itu dampaknya tidak baik ke neraca perdagangan," katanya.


Sementara terkait peningkatan ekspor, Darmin meyakini ekspor masih bisa melaju tinggi. Hal ini karena dari sisi pemerintah pun telah berupaya menyiapkan insentif untuk mendorong ekspor, terutama dengan memberikan insentif berupa tax allowance dan tax holiday.

Apalagi, pemberian tax allowance dan tax holiday sebagian memang diberikan kepada industri yang berorientasi ekspor.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan April 2018 defisit karena impor tumbuh 11,28 persen secara bulanan mencapai US$16,09 miliar. Sedangkan ekspor turun 7,19 persen menjadi US$14,47 miliar.

Walhasil, neraca perdagangan Indonesia dalam kurun waktu Januari-April 2018 mencatatkan defisit US$1,31 miliar. (agi/agi)