Harga Stabil Tak Mampu Bikin Pasar Ramai di Awal Ramadan

NDY, CNN Indonesia | Sabtu, 19/05/2018 16:36 WIB
Harga Stabil Tak Mampu Bikin Pasar Ramai di Awal Ramadan Pedagang di pasar mengeluhkan lebih sepinya pembeli di awal Ramadan tahun ini di banding tahun lalu, meski harga pangan terpantau stabil. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memasuki hari kedua di bulan Ramadan, tampak belum terlihat kenaikan harga yang signifikan pada komoditas pangan di pasar. Namun, pedagang mengeluh karena permintaan pasar lebih sepi dibandingkan Ramadan tahun sebelumnya.

Berdasarkan survei yang dilakukan CNNIndonesia.com, sejumlah harga bahan pangan di Pasar Puri Indah, Jakarta Barat terpantau stabil. Pedagang menyebut kenaikan harga justru terjadi dua pekan sebelum Ramadan.

Salah satu pedagang, Sutiyatmi (55 tahun) menyebut harga barang-barang tersebut justru mengalami kenaikan dua minggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Harga bawang merah naik Rp5 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp50 ribu per kg, bawang putih naik Rp3 ribu per kg, dan cabai naik Rp5 ribu per kg.


"Harga-harganya sudah naik sejak dua minggu lalu. Sekarang terpantau stabil, tapi pembeli (di Ramadan) tidak seramai tahun sebelumnya," ujar Suyatmi, Jumat (18/5).

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh pedagang daging sapi, Anton (43 tahun). Ia mengatakan daging sapi yang dijualnya naik dua minggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Namun, kini harganya terpantau stabil. Saat ini, ia menjual daging sapi dengan harga Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kg sejak dua minggu lalu. 

"Kalau dari hari pertama puasa sampai sekarang harganya tetap, belum naik," kata Anton.

Sementara pedagang lainnya, Tutik (67 tahun) juga menyebut harga beras, gula dan minyak goreng relatif stabil. Pedagang menjual harga beras di kisaran Rp10-12 ribu per liter, gula dengan harga Rp14 ribu per kg, dan minyak goreng dengan harga Rp14 ribu per liter. 

"Harganya sama aja, dua minggu lalu sampai sekarang di bulan Ramadan," kata Tutik.

Kondisi berbeda terjadi pada harga daging ayam dan telur. Tutik mengaku harga telur dan daging ayam sulit diprediksi. Saat ini, ia menjual telur dengan harga Rp27 ribu per kg.

Sementara pedagang daging ayam, Didik (34) menjual daging ayam dengan harga Rp40 ribu per ekor untuk ukuran sedang dan harga Rp50 ribu per ekor untuk ayam yang berukuran besar.


Kendati harga pangan mulai stabil, pedagang juga mengeluhkan sepinya pembeli di awal Ramadan tahun ini dibanding tahun lalu. "Pembeli hari biasa dan Ramadan sama saja, tidak ada peningkatan pembeli. Kalau dibanding tahun lalu, rasanya sekarang lebih sepi," ungkap Didik. 

Sepinya pembeli di pasar tak hanya terjadi di Pasar Puri Indah, melainkan juga di sejumlah pasar lainnya. Hal ini dikonfirmasi oleh Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI) yang melakukan pengamatan terhadap permintaan pasar di beberapa daerah di Indonesia. Mereka menemukan fakta bahwa permintaan terhadap bahan pangan cenderung menurun dibandingkan Ramadan tahun lalu.

"Di sini terjadi penurunan daya beli masyarakat," kata Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri saat dihubungi oleh CNNINdonesia.com.

Ia menyebut, penjual ayam di pasar yang biasanya menjual 10 kuintal daging ayam, saat ini hanya mampu menjual sekitar tujuh kuintal.


Selain itu, walau kenaikan harga jual barang pangan dinilai tidak terlalu signifikan, Abdullah mengatakan harga-harga tersebut mayoritas masih berada di atas Harga Eceran Teratas (HET) yang ditetapkan oleh Pemerintah.

"Harusnya minyak goreng di bawah Rp12 ribu, ini rata-rata Rp12.500 sekarang di eceran," ujarnya.

Terkait lonjakan harga daging ayam dan telur di pasar, Abdullah menduga kenaikan harga disebabkan oleh faktor produksi.

"Ayam dan telur ini pemasoknya pengusaha peternakan saja, sehingga menyebabkan harga menjadi mahal," kata Abdullah.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan telah memanggil perusahaan unggas terintegrasi (integrator) untuk segera menggelontorkan daging ayam ke pasar. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi harga daging ayam yang hingga kini belum melandai.


Sebelumnya, peternak integrator ini tidak diperbolehkan untuk menyuplai daging ayam langsung ke pasar. Adapun, ketentuan ini tercantum di dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Tahun 2016 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras.

Namun larangan tersebut dipertimbangkan kembali setelah para peternak di luar integrator tak kunjung menurunkan harga, sehingga terpaksa meminta integrator untuk menurunkan daging ayam secara besar-besaran di pasar.

Saat ini, harga daging ayam diberondol dengan harga Rp40 ribu per ekor. Harga tersebut masih berada jauh di atas acuan harga HET yaitu Rp32 ribu per kg.

Selain daging ayam, ia juga meminta perusahaan integrator untuk melepas telur lantaran harganya juga tak kunjung turun. Harga telur saat ini mencapai Rp27 ribu per kilogram di pasar, sementara menurut acuan HET harga telur eceran Rp22 ribu. (agi/bir)