OJK Sebut Ekses Likuiditas Perbankan Capai Rp618 Triliun

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 14:11 WIB
OJK Sebut Ekses Likuiditas Perbankan Capai Rp618 Triliun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri perbankan memiliki likuiditas sebesar Rp618 triliun per April 2018. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri perbankan memiliki ekses likuiditas sebesar Rp618 triliun per April 2018. Namun demikian, wasit industri keuangan itu membantah kelebihan likuiditas karena bank menahan penyaluran kredit ke masyarakat.

Sebagai gambatan, hingga April 2018, pertumbuhan kredit perbankan 8,94 persen secara tahunan. Realisasi tersebut lebih tinggi ketimbang April 2017 yang sebesar 8,54 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Tahun lalu, itu hanya sekitar Rp500 triliun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Senin (28/5).



Menurut dia, likuiditas perbankan memang menunjukkan tren peningkatan. "Kalau dapat kredit kan ada disimpan di giro atau digunakan untuk bayar. Kalau bayar kan masuknya ke perbankan lagi," terang dia.

Kondisi likuiditas perbankan, lanjut Wimboh, menunjukkan bahwa ruang ekspansi kredit masih terbuka lebar. Terlebih, rasio kecukupan modal (capita adequacy ratio/CAR) perbankan juga masih relatif terjaga di kisaran 22,38 persen pada April 2018.

Untuk mendorong ekspansi kredit, salah satu caranya dengan mendorong pembiayaan kredit yang berorientasi ekspor melalui sistem cluster dengan memanfaatkan saluran distribusi tambahan (channelling).


Dengan begitu, sambung dia, peningkatan kredit dapat berimbas pada peningkatan ekspor yang saat ini tengah dikejar oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) demi menjaga defisit transaksi berjalan.

Jangan Dulu Naikkan Bunga

Kendati perbankan tengah mengalami kelebihan likuiditas, Wimboh meminta pelaku industri untuk memenuhi janjinya meningkatkan efisiensi operasional. Salah satunya, yakni dengan tidak menaikkan bunga kredit, meski BI sudah menaikkan suku bunga acuan.

"Perbankan memiliki ruang untuk meminimalkan dampak langsung, sehingga nasabah atau debitur tidak terlalu berat," jelasnya.


Wimboh juga meminta perbankan untuk melipatgandakan upaya efisiensi agar biaya dana menurun.

"Makanya, harus optimalkan teknologi perbakan, salah satunya dengan layanan bank nirkantor (branchless banking)," tutur Wimboh. (bir)