Pemerintah Ngotot Ekonomi 2019 Tumbuh 5,4- 5,8 Persen

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 31/05/2018 13:58 WIB
Pemerintah targetkan Ekonomi 2019 Tumbuh 5,4- 5,8 Persen. Target disusun dengan mempertimbangkan konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor yang masih positif. Sri Mulyani, Menteri Keuangan mengatakan pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 2019 di kisaran 5,4-5,8 persen. Target dibuat dengan mempertimbangkan konsumsi domestik, ekspor dan investasi (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah ngotot untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 nanti. Mereka mematok ekonomi bisa tumbuh 5,4 persen hingga 5,8 persen.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan mengatakan bahwa target tersebut dipatok dengan mempertimbangkan faktor konsumsi rumah tangga. Perkiraan pemerintah, tahun depan konsumsi rumah tangga akan kuat dalam menyokong pertumbuhan ekonomi.

Kuatnya dukungan konsumsi rumah tangga tersebut tercermin dari sokongan komponen tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi pada sepanjang kuartal I 2018 kemarin.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) pada sepanjang kuartal I 2018 kemarin masih mencapai 56,8 persen.


Selain itu, kata Ani, konsumsi rumah tangga tahun depan juga masih akan mendapatkan dorongan dari inflasi. Maklum saja, sepanjang tiga tahun terakhir ini, inflasi hanya berada di kisaran 3,5 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu yang rata- ratanya masih 5,6 persen.

"Perkembangan harga domestik dan laju inflasi telah turun dan semakin stabil. Itu merupakan faktor penting dalam menjaga tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi," kata Ani, Kamis (31/5).

Selain konsumsi rumah tangga, Ani mengatakan ekonomi 2019 nanti juga masih akan mendapatkan topangan dari perbaikan daya saing investasi. Hal tersebut akan memperderas arus investasi yang masuk.

Yang lain kata Ani, ekonomi 2019 juga akan mendapatkan topangan dari kinerja ekspor. Pertumbuhan kinerja ekspor sebesar 8,77 persen yang terjadi pada periode Januari hingga April kemarin membuat pemerintah optimis target pertumbuhan ekonomi 2019 akan bisa dicapai.


"Capaian-capaian ini telah mampu membawa perbaikan persepsi pelaku usaha terhadap prospek investasi di Indonesia dan membawa dampak positif untuk mendorong minat investor pada pasar dalam negeri," jelasnya.

Ani mengakui target pertumbuhan ekonomi 2019 masih dihantui bayang- bayang ketidakpastian ekonomi global, seperti: perang dagang yang dikobarkan Amerika, konflik perjanjian nuklir Iran dan perkembangan situasi politik di kawasan Semenanjung Korea.

Tapi, pemerintah akan berupaya agar bayang- bayang ketidakpastian tersebut tidak berdampak banyak pada ekonomi Indonesia. "Makanya pemerintah akan selalu berupaya jaga stabilitas. Stabilitas lebih penting dibanding pertumbuhan ekonomi jangka pendek," katanya.


Sementara itu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai target pertumbuhan ekonomi yang dipatok untuk tahun 2019 tersebut terlalu optimis. Penilaian tersebut mereka dasarkan pada rata- rata pertumbuhan ekonomi sejak 2015 hingga kuartal I 2018 yang hanya berada di kisaran 5 persen.

Oleh karena itulah mereka melalui anggota Fraksi PKS, Andi Akmal Pasludin dan Fraksi PKB, Fathan Subchi meminta pemerintah lebih realistis dalam menyusun target pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, perekonomian global masih diwarnai oleh ketidakpastian, selama tiga tahun terakhir pemerintah masih gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi.

"Konsumsi rumah tangga belum pulih sepenuhnya. Kinerja ekonomi nasional juga masih tergantung pada harga komoditas internasional,"kata Fathan. (agt/bir)