Inflasi Rendah jadi Bukti Tekanan Rupiah Melemah Minim

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Senin, 04/06/2018 16:17 WIB
Inflasi Rendah jadi Bukti Tekanan Rupiah Melemah Minim Bank Indonesia dan pemerintah beranggapan inflasi Mei 2018 sebesar 0,21 persen menjadi bukti bahwa pengaruh tekanan nilai tukar rupiah terhadap inflasi minim. (Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) dan pemerintah kompak beranggapan bahwa inflasi Mei 2018 sebesar 0,21 persen menjadi bukti nyata bahwa pengaruh tekanan nilai tukar rupiah terhadap inflasi sangat minim. Pasalnya, inflasi bulan lalu terbilang rendah dibandingkan bulan Ramadan pada dua tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi Ramadan 2017 yang jatuh pada Mei-Juni mencapai 0,39 persen dan 0,69 persen. Begitu pula dengan Ramadan 2016 yang terjadi pada Juni-Juli dengan besaran inflasi 0,66 persen dan 0,69 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan inflasi rendah ini karena pemerintah dan bank sentral nasional berhasil menjaga ketersediaan pasokan dan harga bahan pangan, sehingga tidak menimbulkan inflasi. Selain itu, inflasi rendah juga menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dari dolar Amerika Serikat (AS) tak memberi tekanan sedikit pun ke inflasi, seperti yang dikhawatirkan banyak pihak.



"Ini memberi bukti kepada (komentar) sejumlah analis yang sebelumnya mengatakan bahwa nilai tukar yang melemah bisa membuat inflasi melambung. Ini bukti nyatanya," ucap Perry di Kementerian Keuangan, Senin (4/6).

Senada, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berpandangan bahwa risiko inflasi yang meningkat dari melemahnya kurs rupiah tentu ada.

Hanya saja, pemerintah dan BI berupaya keras untuk menciptakan kestabilan harga guna menetralisir tekanan inflasi dari kurs rupiah. Dengan begitu, daya beli dan konsumsi masyarakat tidak tergerus.

"Gejolak dolar AS, tentu akan berpotensi meningkatkan inflasi, namun stabilitas dari sisi harga pangan dan pasokan itu memberikan suatu tingkat kepastian kepada masyarakat," terang dia.


Ke depan, Sri Mulyani bilang pemerintah dan BI akan terus memaksimalkan koordinasi agar kestabilan harga dan ketersediaan pasokan terus tercipta, sehingga mampu menjaga daya beli masyarakat.

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto menilai bahwa pelemahan kurs rupiah memang tidak memberi tekanan ke inflasi karena tidak terjadi dalam kurun waktu yang lama, misalnya sampai akhir tahun ini.

"Tidak pengaruhi inflasi. Ini baru berpengaruh kalau depresiasi rupiah terjadi dalam waktu setahun misalnya. Jadi sejauh ini, kalau dilihat tidak ada sama sekali (dampak kurs ke inflasi)," jelasnya.

Sebelumnya, data BPS mencatat bahwa inflasi secara tahun kalender sebesar 1,3 persen dan inflasi secara tahunan mencapai 3,23 persen.

Inflasi bulan lalu disumbang oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,05 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar inflasi sebesar 0,05 persen.

"Untuk kelompok makanan jadi, beberapa komoditas yang berpengaruh, yaitu mie instan, air kemasan, dan rokok kretek. Sedangkan perumahan, karena kenaikan tarif kontrakan rumah dan upah asisten rumah tangga," terang Kepala BPS Suhariyanto.


Kendati begitu, BPS mencatat inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok sandang yang mencapai 0,33 persen, meski andilnya hanya sebesar 0,02 persen. "Ini karena ada kenaikan baju muslim wanita, ibu-ibu tampaknya sudah menyiapkan Lebaran sejak dini," katanya.

Adapun, kelompok bahan makanan mengalami inflasi 0,21 persen dengan andil 0,04 persen. Sejumlah komoditas yang menyumbang inflasi karena ada kenaikan harga, yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, dan bawang merah. (lav/bir)