Dengan demikian, tambahan utang pemerintah tahun depan bisa lebih rendah dari tahun sebelumnya, dengan perkiraan nilai 2,1 persen hingga 2,5 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan berkurangnya tambahan utang ini karena ada perbaikan dari keseimbangan primer. Adapun, keseimbangan primer adalah hasil penerimaan negara dikurangi belanja, namun di luar pembayaran bunga utang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, membaiknya keseimbangan primer ini disebabkan perbaikan penerimaan negara, yakni tingkat kepatuhan pajak yang didasarkan pada rasio perpajakan (tax ratio) diprediksi membaik. Jika tax ratio 2018 dipatok 11,6 persen dari PDB, maka tax ratio tahun depan bisa mencapai 11,9 persen dari PDB yang didorong perbaikan administrasi pajak.
Lihat juga:Tiga Insentif Pajak Ditebar Tahun Depan |
Menurutnya, penurunan defisit APBN dibutuhkan lantaran postur fiskal harus memiliki daya tahan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Sebab, berbagai kejadian eksternal seperti normalisasi suku bunga acuan AS hingga perang dagang sudah membuat ekonomi global gonjang-ganjing mulai tahun ini.
Hal itu juga tercermin ke dalam strategi pembiayaan defisit APBN tahun depan. Rencananya, utang tetap akan diperoleh dari bauran obligasi negara dengan perkiraan nilai 2,1 persen hingga 2,5 persen dari PDB, sisanya dipenuhi dari pembiayaan bilateral dan multilateral.
"Rasio utang terhadap PDB mungkin akan di angka 28,8 persen di tahun depan, dan ini di bawah ketentuan 30 persen. Tentu utang digunakan untuk kegiatan produktif dan kami pastikan komposisi utang dari luar negeri dan dalam negeri bisa dalam konteks yang aman," pungkasnya.
Menurut data Kementerian Keuangan, realisasi pembiayaan utang per April 2018 sudah mencapai Rp187,16 triliun. Angka ini terbilang 46,88 persen dari target utang APBN 2018 sebesar Rp399,2 triliun. (lav/agt)