Pemerintah-BI Tepis Isu Daya Beli Lesu Karena Inflasi Rendah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 06/06/2018 10:28 WIB
Pemerintah-BI Tepis Isu Daya Beli Lesu Karena Inflasi Rendah Ilustrasi daya beli masyarakat. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menepis isu inflasi rendah karena daya beli masyarakat yang melemah. Alasannya, daya beli seharusnya melorot bila inflasi tinggi akibat meroketnya harga barang-barang kebutuhan masyarakat.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan Adriyanto bilang Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami inflasi menandakan bahwa masih ada kenaikan harga akibat tarik menarik penawaran dan permintaan (supply and demand).

Artinya, permintaan dari masyarakat tetap tinggi, sehingga membuat harga naik akibat lebih rendahnya penawaran dari industri. "Dengan begitu, bukan di daya beli masalahnya, tapi preferensi masyarakat untuk belanja yang berubah," jelasnya di Kompleks Bank Indonesia (BI), Selasa (5/6).


Dari sisi lain, pelemahan daya beli masyarakat juga tak tepat dijadikan kambing hitam karena sebenarnya pendapatan masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu. "Bahkan, Nilai Tukar Petani (NTP) juga membaik," kata Andriyanto.

Sementara, Edi P Purnomo, Asisten Deputi Moneter Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melihat inflasi rendah terjadi karena beralihnya prioritas konsumsi masyarakat. Hal ini membuat kenaikan harga tidak terjadi di satu barang saja yang sebelumnya identik sebagai biang keladi inflasi.

Ambil contoh, ketika Ramadan, harga pakaian muslim yang menenuhi kebutuhan sandang masyarakat akan memberi sumbangan tinggi pada inflasi. "Mungkin karena libur Lebaran lebih awal, bisa saja perilaku masyarakat berubah, lebih mendahulukan tiket mudik daripada beli baju," terang dia.


Reza Anglingkusumo, Kepala Riset Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI mengungkapkan bila daya beli masyarakat melorot, yang terjadi seharusnya justru penurunan harga (deflasi) karena produsen tentu mengikuti kondisi pasar yang tak bergairah akibat kehilangan kemampuan konsumsinya.

"Jadi, kalau masih ada inflasi, masih ada demand-supply yang berinteraksi, maka itu bukan soal daya beli," imbuhnya.

Sebelumnya, anggapan inflasi rendah karena terpapar rendahnya daya beli masyarakat menjadi kondisi yang tak biasa di bulan Ramadan. Sebab, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi di Ramadan biasanya lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya.


Misalnya, pada Ramadan 2017 yang jatuh Mei-Juni mencatatkan inflasi masing-masing 0,39 persen dan 0,69 persen.

Begitu pula dengan Ramadan 2016 yang terjadi di Juni-Juli membuat inflasi keduanya berada di kisaran 0,66 persen dan 0,69 persen. Sedangkan, Ramadan tahun ini yang separuhnya terjadi di Mei 2018 mencatatkan inflasi yang hanya 0,21 persen.


(bir)