Sentimen Minim, Rupiah Melemah ke Rp13.875 per dolar AS

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 07/06/2018 17:29 WIB
Sentimen Minim, Rupiah Melemah ke Rp13.875 per dolar AS Nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin ke posisi Rp13.875 per dolar AS pada perdagangan hari ini seiring minimnya sentimen dari dalam dan luar negeri. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp13.875 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan di pasar spot hari ini, Kamis (7/6). Pelemahan rupiah diperkirakan terjadi karena sentimen penggerak rupiah baru terjadi pada pekan depan.

Sementara, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatatkan rupiah pada posisi Rp13.868 per dolar AS. Posisi ini justru menguat dari posisi kemarin, Rp13.875 per dolar AS.

Ariston Tjendra, Kepala Riset dan Analis Monex Investindo mengatakan rupiah melemah karena tidak ada sentimen penggerak pada hari ini, baik dari dalam maupun luar negeri.


Sedangkan faktor penggerak rupiah baru terjadi pada pekan depan, di mulai dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Pimpinan Tinggi Korea Utara Kim Jong-un di Singapura pada 12 Juni 2018.


Menurutnya, bila Trump dan Jong-un berhasil berdamai, rupiah akan melemah. Pasalnya, konflik antar kedua negara besar itu akan terselesaikan dan membuat dolar AS menguat.

Hal ini secara langsung memberi efek negatif pada rupiah. "Karena konflik mereda, permasalahan terselesaikan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Namun, bila tetap tidak ada jalan keluar dari pertemuan keduanya, maka bukan tidak mungkin dolar AS melemah dan menguntungkan posisi rupiah.

Kemudian, faktor kedua yang akan menentukan nasib rupiah pekan depan ialah hasil keputusan rapat dewan gubernur bank sentral AS, The Federal Reserve (The Federal Open Market Committee/FOMC) pada 14 Juni 2018.

Menurutnya, pasar sebenarnya sudah meyakini bahwa The Fed akan mengerek suku bunga acuannya. Meski, pernyataan terakhir The Fed justru bernada tidak agresif (dovish) dalam menaikkan bunga acuan.


"Tapi pernyataan dovish itu bisa saja hilang dan berakhir pada kenaikan bunga acuan bila sejumlah data perekonomian AS membaik," katanya.

Kendati begitu, masih ada peluang bagi rupiah untuk menguat, yakni karena Lebaran 2018 jatuh pada tanggal 15-16 Juni mendatang, setelah Trump bertemu Jong-un dan The Fed menyatakan keputusannya.

"Mungkin bisa sedikit dampaknya karena pasar libur," imbuhnya.

Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka melihat sekalipun banyak sentimen yang melemahkan rupiah pada pekan depan.

Namun, pelemahan rupiah diperkirakannya tak akan sampai kembali ke Rp14 ribu per dolar AS. "Kemungkinan hanya sampai Rp13.900 per dolar AS, tidak lebih dari itu," ucapnya.


Hal ini karena dari sisi internal, Bank Indonesia (BI) telah memberi pernyataan kepada pasar bahwa bank sentral nasional akan segera mengambil langkah bila stabilitas rupiah kembali terancam.

"Kemungkinan BI untuk menaikkan suku bunga acuan itu ada, apalagi setelah The Fed menaikkan pada pekan depan. BI tidak tinggal diam," jelasnya.

Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia turut melemah. Won Korea Selatan minus 0,22 persen, rupee India minus 0,21 persen, peso Filipina minus 0,1 persen, baht Thailand 0,1 persen, renmimbi China minus 0,09 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,07 persen.

Hanya dolar Hong Kong, dolar Singapura, dan yen Jepang yang berhasil menguat, masing-masing 0,01 persen, 0,07 persen, dan 0,24 persen.

Sedangkan mata uang negara maju bervariasi. Dolar Australia menguat 0,18 persen, rubel Rusia 0,14 persen, dolar Kanada 0,09 persen. Sedangkan poundsterling Inggris melemah 0,3 persen, euro Eropa minus 0,39 persen, dan franc Swiss minus 0,52 persen. (agi/bir)