Tutup 150 Gerai di AS, Starbucks Indonesia Tambah 60 Gerai

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 20/06/2018 20:06 WIB
Tutup 150 Gerai di AS, Starbucks Indonesia Tambah 60 Gerai Starbucks Indonesia akan membuka 60 gerai baru hingga akhir tahun. Rencana ekspansi ini berbanding terbalik dengan Starbucks AS yang menutup 150 gerainya. (REUTERS/Lucy Nicholson).
Jakarta, CNN Indonesia -- Starbucks Indonesia, lini binis PT MAP Boga Adiperkasa Tbk berencana membuka 60 gerai baru hingga akhir tahun ini. Langkah ini berbanding terbalik dengan Starbucks di negara asalnya, Amerika Serikat (AS), yang justru akan menutup 150 gerai pada tahun depan.

Fetty Kwartati, Direktur MAP Boga Adiperkasa mengatakan waralaba kedai kopi itu akan tetap menambah gerai di Indonesia karena pasar bisnisnya masih menjanjikan, sehingga perusahaan akan terus berekspansi.

"Starbucks di Indonesia terus berkembang dan tahun ini menambah 60 toko baru," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/6).



Sampai Mei 2018, perusahaan tercatat membuka 25 gerai Starbucks baru. Artinya, sebanyak 41,6 persen dari target pembukaan gerai telah dipenuhi oleh perusahaan. Pembukaan gerai tersebar di Jakarta dan luar Jakarta.

Sayangnya, ia belum memberi gambaran terkait kinerja Starbucks hingga pertengahan tahun ini. Namun, berdasarkan laporan yang dipublikasikan, hingga kuartal I 2018, MAP Boga membukukan laba bersih Rp30,93 miliar atau tumbuh 102,1 persen jika dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp15,31 miliar.

Hal ini karena penjualan ritel anak usaha PT Mitra Adiperkasa Tbk tersebut mencapai Rp535 miliar atau tumbuh 22,15 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sekitar 72 persen dari penjualan tersebut disumbang dari minuman. Lalu, 21 persen dari makanan dan sisanya dari segmen lain.


Sebelumnya, dikabarkan bahwa Starbucks di AS akan menutup 150 gerai atau sekitar tiga kali lipat dari jumlah penutupan tahun-tahun sebelumnya karena kinerjanya yang menurun. Kinerja penjualan Starbucks diperkirakan hanya tumbuh satu persen secara kuartal-an.

Untuk itu, gerai yang kurang potensial akan ditutup, misalnya yang terletak di daerah perkotaan yang penuh penduduk dengan lokasi gerai Starbucks yang juga padat.

"Kami harus bergerak lebih cepat untuk mengatasi perubahan preferensi dan kebutuhan yang cepat dari para pelanggan," kata CEO Starbucks (SBUX) Kevin Johnson, dikutip dari CNN.com.


Sebelumnya, Starbucks menutup sebanyak 8.000 gerai di AS pada 29 Mei lalu guna memberikan edukasi antirasis kepada 175 ribu pegawainya.

Edukasi diberikan menyusul insiden penangkapan dua orang berkulit hitam di kedai Starbucks di Philadelphia pada April lalu. Penangkapan dilakukan setelah manajer Starbucks menghubungi polisi karena melihat kedua orang tersebut hanya duduk tanpa memesan. (bir)