Besok, Uni Eropa Mulai Berlakukan Tarif 'Perang Dagang' ke AS

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 18:53 WIB
Besok, Uni Eropa Mulai Berlakukan Tarif 'Perang Dagang' ke AS Ilustrasi. (REUTERS/Neil Hall).
Jakarta, CNN Indonesia -- Uni Eropa akan memberlakukan tarif impor bea masuk sebesar 25 persen terhadap produk-produk Amerika Serikat (AS) mulai besok. Penerapan tarif ini untuk membalas perang dagang yang dilakukan Presiden AS Donald Trump terhadap produk baja, dan aluminium asal Eropa sejak awal bulan ini.

Cecilia Malmstrom, Komisaris Perdagangan Uni Eropa mengatakan tarif balasan itu diberlakukan karena tak ada jalan lain yang lebih baik untuk melindungi kepentingan masyarakat Benua Biru. Sebab, Uni Eropa sebenarnya sudah membuka diri kepada AS, namun Trump tetap keras kepala.

"Kami pikir itu konyol untuk menganggap Uni Eropa sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS. Kami selalu terbuka untuk berbicara dengan AS," ujar Malmstrom, dikutip dari Reuters, Kamis (21/6).



AS menerapkan tarif impor 25 persen untuk produk baja dan 10 persen untuk aluminium dari Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Bahkan, AS juga menerapkan tarif impor untuk produk China yang bernilai hingga US$200 miliar.

Perang dagang dilakukan AS lantaran Negeri Paman Sam kerap mencatat defisit perdagangan dengan negara-negara tersebut, khususnya dengan China.

Tak hanya Uni Eropa, Kanada, Meksiko, dan China juga siap memberlakukan tarif balasan dalam waktu dekat. Kanada akan mengenakan tarif baru bagi produk AS dengan nilai mencapai US$12,8 miliar. Lalu, Meksiko akan menerapkan tarif baru bagi impor kaki babi, apel, anggur, keju, hingga produk bajak dari AS.


Sedangkan China akan memasang tarif tinggi pada 1.000 produk AS, terutama produk-produk kedirgantaraan, robotik, manufaktur, dan industri otomotif. Rencananya, tarif itu mulai diberlakukan pada 6 Juli mendatang.

Gandeng Selandia Baru

Di sela perang dengan AS, Uni Eropa justru mempererat kerja sama perdagangan dengan Selandia Baru. Hal itu dilakukan Malmstrom melalui pembicaraan perjanjian perdagangan bebas dengan David Parker, Menteri Perdagangan Selandia Baru.

"Selandia Baru adalah teman, sekutu. Kami ingin perdagangan yang berkelanjutan, terbuka, transparan, dan sesuai dengan aturan internasional dalam sistem multilateral," katanya.


Kendati begitu, belum diketahui kesepakatan apa yang akan dicapai kedua negara dalam waktu dekat. Namun, Malmstrom bilang, kedua negara setidaknya memiliki pandangan yang sama bahwa perang dagang dari AS membahayakan perdagangan internasional.

"Kami tidak suka itu. Kami perlu mengatasi masalah ini, tapi dengan hanya melempar tarif ke seluruh dunia bukanlah cara yang tepat untuk mengatasi ini," pungkasnya. (bir)