Ketua Federasi Besi dan Baja Jepang Koji Kakigi mengaku prihatin dengan aksi balas membalas yang dilakukan AS dan China dalam rangka proteksionisme pasar masing-masing negara.
"Jika memanasnya konflik dagang memicu tarif impor lebih jauh, maka hal itu dapat mengarah pada kolapsnya permintaan pada perdagangan global," ujarnya, seperti dilansir Reuters, Selasa (19/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Bursa Saham China Terpukul Perang Dagang |
Kakigi yang juga menjabat sebagai Presiden JFE Steel, salah satu unit usaha JFE Holding Inc, menambahkan permasalahan akan menjadi semakin serius jika kerangka kerja Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) rusak.
Kendati demikian, Kakigi menyatakan pengenaan tarif impor baja AS sebesar 25 persen yang dilakukan sejak Maret lalu belum berdampak signifikan terhadap ekspor baja Jepang ke AS.
"Kami memahami bahwa rata-rata perlu 90 hari untuk memproses (permohonan) dan kami memperkirakan persetujuan pertama (pembebasan tarif impor) akan diberikan pada awal Juli," tegas Kakigi.
Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengancam bakal mengenakan tarif impor sebesar 10 persen terhadap US$200 miliar produk dari China, sebagai aksi 'balas dendam' atas rencana pengenaan tarif impor oleh China terhadap produk AS. (bir)