Luhut Kirim Tim Perumus Kriteria Impor Sawit ke Uni Eropa

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 26/06/2018 11:03 WIB
Luhut Kirim Tim Perumus Kriteria Impor Sawit ke Uni Eropa Ilustrasi kelapa sawit. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Indonesia berencana mengirim tim khusus ke Uni Eropa untuk bernegosiasi terkait penentuan kriteria ekspor-impor kelapa sawit antara kedua pihak.

Negosiasi dilakukan dalam rapat yang digelar Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bersama Duta Besar Uni Eropa Vincent Guérend di Kantor Menko Kemaritiman, Senin (25/6) sore.

Luhut mengatakan pemerintah akan mengirim tim yang akan dibentuk esok dalam penyusunan kriteria itu. Ini karena Luhut ingin memastikan Uni Eropa tidak serta merta menggagahi Indonesia, meski mereka merupakan pasar utama minyak kelapa sawit terbesar bagi Indonesia.



"Saya panggil Vincent, kami omongin. Kami akan kirim tim dan akan masuk dalam tim Uni Eropa itu untuk membahas kriteria. Kami tidak mau mereka yang mengatur kita. Ini bangsa besar," ungkap Luhut.

Soal pembatasan ekspor minyak sawit hingga 2030, Luhut menilai kesepakatan itu cukup adil. Hanya negara yang menanam kelapa sawit tidak sesuai dengan standar UE (deforestasi) yang tidak diperkenankan mengekspor ke negara tersebut.

"Saya kira kelapa sawit itu kita cukup berhasil, jadi kita tunda phasing outnya (penghentian impor) ke 2030. Tapi itu memang berlaku kepada kelapa sawit yang ditanam di tanah yang tidak ramah lingkungan. Itu tidak bisa eksport ke UE. Cukup fair sih," paparnya.


Dia juga mengatakan masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk memperpanjang kembali kesepakatan dengan UE setelah 2030. Luhut meyakini setidaknya 10 juta hektar lahan akan bisa menghasilkan kelapa sawit yang halal diekspor ke EU.

"Kita kan (punya) banyak (lahan), 12 jutaan hektar kita punya. Paling mungkin yang pit land (lahan gambut) berapa juta sih? Paling 1,5 juta, Katakanlah 10 juta bersih. 10 juta kan masih banyak banget," ujarnya.

Sebelumnya, parlemen Uni Eropa berencana melarang pemakaian biodiesel berbasis crude palm oil (CPO)pada 2020, yang artinya menyetop impor komoditas tersebut dari Indonesia. Larangan itu kemudian ditunda hingga 2030 melalui revisi Arahan Energi Terbarukan Uni Eropa (RED II).


Berdasarkan data BPS, Indonesia mengekspor minyak kelapa sawit ke 19 negara EU, dengan total nilai ekspor sebesar US$2,89 miliar. Nilai tersebut setara dengan 14,21 persen dari total nilai ekspor RI tahun 2017 sebesar US$20,34 miliar. (lav/bir)