Perang Dagang, Harley Davidson Terpaksa Mengungsi ke Luar AS

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 26/06/2018 11:29 WIB
Perang Dagang, Harley Davidson Terpaksa Mengungsi ke Luar AS Perusahaan otomotif asal AS, Harley Davidson, terpaksa mengungsikan basis produksinya ke luar AS demi menghindari dampak perang dagang. (REUTERS/Henry Nicholls).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perang dagang yang digongkan Presiden AS Donald Trump ke beberapa negara, mulai memberi dampak. Salah satunya dialami Harley Davidson. Perusahaan otomotif yang berkantor di Wisconsin, AS, tersebut terpaksa memindahkan basis produksinya ke wilayah lain di luar AS demi menghindari bea masuk ke Uni Eropa.

Harley Davidson adalah bukti pertama bahwa perang dagang yang ditabuhkan AS bisa berdampak merugikan terhadap pelaku industri Negara Paman Sam itu sendiri. Menurut manajemen, perusahaan bisa merugi US$100 juta per tahun jika tak memindahkan basis produksinya.

"Menaikkan produksi bagi pasar internasional untuk melemahkan pengaruh bea masuk Uni Eropa bukanlah keinginan perusahaan. Tapi, ini satu-satunya opsi agar produksi tetap bisa berkesinambungan," ujar manajemen perusahaan mengutip CNN.com, Selasa (26/6).


Akibat pengumuman itu, saham Harley Davidson rontok 6 persen. Namun, alih-alih menunjukkan dukungannya, Donald Trump malah berkicau di media sosial Twitter bahwa ia terkejut melihat Harley Davidson sebagai perusahaan AS pertama yang tampak mengibarkan bendera putih.

"Perpajakan hanya alasan Harley. Sabar!" jelas Trump di media sosialnya.

Sebelumnya, Uni Eropa membebankan bea masuk bagi produk AS senilai US$3,2 miliar, seperti sepeda motor, sari jeruk, bourbon, selai kacang, kapal motor, rokok, dan denim. Ini merupakan balasan Uni Eropa atas pembebanan bea masuk AS atas produk baja dan aluminium Eropa.


Khusus sepeda motor, Uni Eropa menaikkan bea masuk sebesar 6 persen menjadi 31 persen. Ini akan membuat ekspor satu unit motor Harley Davidson ke Eropa lebih mahal US$2.200. Sejauh ini, perusahaan tidak menaikkan harga motor bagi konsumen maupun distributor.

Namun, bea masuk ini akan menggerogoti keuangan perusahaan sebesar US$30 juta hingga US$40 juta di sisa tahun ini dan US$90 juta hingga US$100 juta per tahun di tahun-tahun berikutnya.

"Jika kenaikan biaya yang luar biasa ini dibebankan ke distributor dan konsumen, maka ini bisa membahayakan bisnis," imbuh manajemen perusahaan.


Perusahaan tidak menerangkan jumlah tenaga kerja yang terancam akibat keputusan ini. Saat ini, Harley Davidson memiliki 6 ribu pekerja di seluruh dunia. Juru bicara Harley Davidson Michael Pflughoeft mengungkapkan perusahaan sedang menghitung potensinya terhadap tenaga kerja.

Sejauh ini, Harley Davidson adalah produsen sepeda motor terbesar di AS. Eropa sendiri merupakan pasar terbesar kedua bagi Harley Davidson dengan penjualan mencapai 40 ribu unit atau 27,02 persen dari seluruh penjualan Harley Davidson di AS sebanyak 148 ribu pada 2017 lalu.

Eropa dianggap sebagai pasar terpenting Harley Davidson setelah penjualannya di AS merosot. Penjualan Harley Davidson di AS tahun lalu turun 8,5 persen dari 2016, namun di Eropa penurunannya hanya turun 0,4 persen.

Pada Januari lalu, perusahaan memutuskan untuk menutup pabrik di Kansas City dan mengkonsolidasikannya ke pabrik di York, Pennsylvania. Namun, di sisi lain, Harley Davison telah membuka pabrik baru di India dan Brazil dan akan membuka satu pabrik di Thailand tahun ini.


(bir)