Efisiensi, Garuda Fokus Renegosiasi Biaya Sewa Pesawat

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 08:56 WIB
Efisiensi, Garuda Fokus Renegosiasi Biaya Sewa Pesawat Saat ini, kontribusi biaya pesawat mencapai 35 persen dari total biaya operasional PT Garuda Indonesia Tbk. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia Tbk akan fokus melakukan renegosiasi sejumlah kontrak sebagai upaya efisiensi biaya operasional perusahaan pada semester II tahun ini.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan renegosiasi itu akan difokuskan pada biaya sewa pesawat. Maklum, tidak semua pesawat yang digunakan dimiliki sendiri oleh perusahaan.

"Fokus kami menurunkan biaya sewa pesawat, tapi sekalian juga kontrak-kontrak lainnya," ucap Pahala, Kamis (12/7).


Pahala menyebut kontribusi biaya sewa pesawat mencapai 30-35 persen dari total biaya operasional perusahaan. Makanya, jika Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini bisa menekan biaya itu, maka akan berdampak positif pada kinerja keuangan perusahaan.


Selain biaya sewa pesawat yang diklaim tinggi, Pahala mengungkapkan perusahaan juga merogoh kocek besar untuk pembelian avtur karena harganya saat ini semakin naik.

"Asumi harga avtur dulu berbeda dengan sekarang. Dulu lebih rendah 10-15 persen," jelas Pahala.

Sementara, Pahala mengaku tak mempersoalkan biaya katering karena hanya berkontribusi kecil di pos pengeluaran operasioanal, yakni dua sampai tiga persen dari total biaya operasional.

Adapun, perusahaan berencana mengkaji ulang target keuntungannya tahun ini yang mencapai US$8,7 juta. Hal ini lantaran harga avtur yang semakin tinggi.


"Belum ada perubahan, tapi kami akan kaji ulang," jelas Pahala.

Hingga kuartal I 2018, Garuda Indonesia masih mencatatkan kerugian sebesar US$64,3 juta. Kendati merugi, jumlahnya berkurang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$101,2 juta.

Terbitkan KIK EBA

Disisi lain, Garuda Indonesia saat ini tengah memproses rencana penerbitan instrumen investasi kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA). Ia menargetkan proses book building akan selesai pekan depan.

"(Untuk diterbitkannya) pekan depan juga, karena izin efektif kan sudah kami miliki. Jadi tentu segera diterbitkan setelah proses book building selesai," papar Pahala.


Namun, Pahala belum bisa menyampaikan berapa nilai KIK EBA yang akan diterbitkan oleh perusahaan. Hanya saja, ia memastikan investor yang mengikuti proses book building terlihat antusias dengan KIK EBA yang akan diterbitkan Garuda Indonesia.

"Kami juga memonitor terus perkembangan makro dan pengaruhnya kepada proses book building ini minat investor cukup baik," tutur Pahala.

Garuda Indonesia berencana menggunakan raihan dana KIK EBA ini untuk menata ulang (reprofilling) utang perusahaan. Dengan demikian, ia berharap perusahaan tak lagi perlu menambah utang usai menerbitkan KIK EBA.

"Jadi utang kami yang jangka pendek itu bisa diperpanjang jangka waktunya, kemudian juga melunasi sebagian yang sudah ada," sambung Pahala.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2018, jumlah liabilitas atau kewajiban Garuda Indonesia mencapai US$3,08 miliar, naik dari kuartal I 2017 yang hanya US$2,82 miliar. (agi/agi)