Duit Asing Keluar dari Pasar Modal Rp1 T Sejak Bunga BI Naik

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 17:40 WIB
Duit Asing Keluar dari Pasar Modal Rp1 T Sejak Bunga BI Naik Bursa Efek Indonesia mencatat pelaku pasar asing melakukan aksi jual bersih sejak awal Juli 2018 hingga penutupan perdagangan kemarin (12/7) sebesar Rp1,1 triliun. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pelaku pasar asing melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,1 triliun sejak awal Juli 2018 hingga penutupan perdagangan Kamis (12/7).

Hal tersebut menunjukkan aksi jual masih gencar dilakukan investor asing usai Bank Indonesia menaikkan suka bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada 29 Juni 2018.

Data statistik BEI menunjukkan pelaku pasar asing lebih banyak melakukan aksi jual pada enam hari pertama sejak suku bunga acuan dinaikkan. Sementara, tiga hari belakangan ini pelaku pasar asing lebih banyak membeli saham, sehingga asing tercatat beli bersih (net buy).


Pada 2-9 Juli 2018, total dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai Rp1,8 triliun, sedangkan pada 10-12 Juli 2018 pelaku pasar asing net buy dengan nilai total Rp702,07 miliar.

Realisasi ini berbanding terbalik pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang mencatatkan aliran modal asing masuk Rp6 triliun sejak BI menaikkan bunga acuan.


Seperti diketahui, kebijakan yang diambil BI untuk menaikkan kembali suku bunga acuan pada bulan lalu untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menarik pelaku pasar asing untuk kembali masuk ke dalam negeri.

Analis Anugerah Sekuritas Bertoni Rio mengungkapkan masih banyaknya pelaku pasar asing yang keluar dari pasar saham bukan karena mereka tak percaya sepenuhnya dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Pelaku pasar asing juga mempertimbangkan kondisi global, di mana terdapat ketidakpastian terkait perang dagang yang diluncurkan oleh AS kepada sejumlah negara, seperti China, Eropa, dan Indonesia.

"Kekhawatiran investor dampak perang dagang antara AS dan China, sedangkan Eropa sendiri masih ragu akan kebijakan moneter di mana bank sentral Eropa berwacana akan mengurangi pembelian obligasi pemerintahannya," ungkap Bertoni kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/7).


Sementara, pemerintah Indonesia sendiri saat ini terlihat sedang berupaya penuh menjaga stabilitas dan kepercayaan pelaku pasar asing terkait ekonomi Indonesia, khususnya tingkat pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Dengan kenaikan suku bunga acuan BI yang sudah mencapai 100 basis poin sepanjang tahun ini, Bertoni tak menampik beban biaya utang perusahaan bisa saja bertambah.

Namun, jika BI tak menaikkan suku bunga acuan maka nilai tukar rupiah bisa saja semakin turun dari posisi saat ini. Bila demikian, penguatan dolar AS akan memberikan sentimen negatif untuk biaya utang perusahaan berdenominasi dolar AS.

"Diharapkan direksi emiten telah mengantisipasi isu gejolak ekonomi yang kurang kondusif," tutur Bertoni. (agi/bir)