Pemerintah Restrukturisasi Merpati dan Tiga BUMN Bangkrut

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 09:22 WIB
Pemerintah Restrukturisasi Merpati dan Tiga BUMN Bangkrut Kementerian BUMN akan merestrukturisasi empat dari total 11 perusahaan pelat merah yang harus dibenahi, termasuk PT Merpati Nusantara Airlines.(CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan merestrukturisasi empat dari total 11 perusahaan pelat merah yang tengah mengalami kebangkrutan, termasuk PT Merpati Nusantara Airlines. 

Seluruh BUMN itu masuk dalam PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero). PPA merupakan BUMN yang ditunjuk pemerintah untuk melakukan restrukturisasi dan/atau revitalisasi, serta mengelola aset BUMN.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro menyebutkan empat BUMN yang akan diprioritaskan antara lain, PT Merpati Nusantara Airlines, PT Kertas Kraft Aceh, PT Industri Gelas, dan PT Kertas Leces.


"Empat ini technically bankrupt. Industri Gelas misalnya utang besar, lalu aset setengahnya juga telah diambil alih oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)," ungkap Aloy.


Selain itu, situasi bisnis di industri pembuatan gelas sendiri sedang tidak baik. Aloy mengklaim perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini tengah melakukan konsolidasi.

Hal yang sama terjadi pada bisnis berbasis kertas. Aloy menyebut industri bisnis kertas juga tengah bergejolak saat ini. Makanya, Kertas Kraft Aceh dan Kertas Leces ikut terkena dampak.

"Semua perusahaan kertas sedang konsolidasi besar-besaran," imbuh Aloy.

Kemudian, maskapai penerbangan Merpati juga dilanda persoalan keuangan. Dalam hal ini, perusahaan memiliki beban utang kepada sejumlah kreditur sebesar Rp10,72 triliun. Bahkan, permasalahan sudah dibawa sampai ranah Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

"Kami juga harus selesaikan utang piutang dengan serikat pekerja karyawan," terang Aloy.

Aloy menjabarkan total aset yang dimiliki Merpati pada akhir 2017 tersisa Rp1,21 triliun. Angka itu berbanding terbalik dengan utang yang harus dibayarkan yang mencapai Rp10,72 triliun tersebut.

Di sisi lain, karena perusahaan tidak beroperasi maka tak ada raihan pendapatan maupun laba bersih. Ekuitas perusahaan pun tercatat minus Rp9,51 triliun dan perusahaan merugi Rp737 miliar.


Sementara itu, aset yang dimiliki oleh Kertas Kraft Aceh per 2017 sebesar Rp781 miliar dengan total kewajiban yang harus dibayar mencapai Rp1,7 triliun.

Berbeda dengan Merpati, perusahaan masih meraih pendapatan pada tahun lalu sebesar Rp146 miliar, tetapi ekuitas tetap minus Rp919 miliar dan merugi sebesar Rp66 milar.

Selanjutnya, untuk Industri Gelas sendiri hanya meraup pendapatan sebesar Rp824 juta dan merugi sebesar Rp55,45 miliar pada 2017. Namun, perusahaan memiliki utang mencapai Rp1,09 triliun.

Terakhir, Kertas Leces memiliki utang Rp1,34 triliun per 2017. Sementara, perusahaan hanya memiliki aset sebesar Rp720 miliar dan ekuitasnya minus sebesar Rp623 miliar.

Aloy menambahkan PPA kini sedang mencari mitra strategis atau investor untuk membangkitkan empat BUMN yang terancam pailit ini. (lav/lav)