Defisit RI-China Bengkak Meski Belum Terimbas Perang Dagang

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 07:38 WIB
Defisit RI-China Bengkak Meski Belum Terimbas Perang Dagang Aktivitas bongkar muat Kapal Kontainer. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Defisit neraca perdagangan antara Indonesia dan China kian melebar pada semester I 2018 menjadi US$8,28 miliar. Jumlah tersebut naik US$1,67 miliar dibandingkan paruh pertama tahun lalu yang hanya berkisar US$6,61 miliar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statisik (BPS), defisit perdagangan Indonesia pada Januari-Juni 2018 berasal dari nilai impor yang mencapai US$20,57 miliar, sedangkan ekspor ke Negeri Tirai Bambu itu cuma US$12,29 miliar. Sementara pada Januari-Juni 2017, jumlah impor US$15,76 miliar dan ekspor US$9,15 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan tren defisit perdagangan Indonesia dari China sejatinya memang terjadi dari tahun ke tahun. Apalagi, impor pada tahun ini membengkak akibat bertambahnya kebutuhan impor industri.



Peningkatan impor terutama terjadi jelang Ramadan dan Lebaran seiring kebutuhan industri guna memenuhi peningkatan permintaan jelang dua momen tersebut.

Kendati demikian, hal ini tak menandakan bahwa ada masalah baru pada kinerja perdagangan Indonesia dengan China. Kenaikan defisit, menurut dia, belum dipengaruhi oleh isu perang dagang antara dengan AS yang dikhawatirkan membuat ekspor China beralih ke Tanah Air.

"Jadi ini lebih karena faktor musiman. Kami belum menangkap adanya dampak perang dagang itu," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/7).

Sementara secara keseluruhan, kinerja perdagangan paruh pertama memang terpaksa mencatatkan defisit US$1,02 miliar karena nilai secara kumulatif ekspor hanya sebesar US$88,02 miliar. Sedangkan impor mencapai US$89,04 miliar.


Surplus ke AS Menyusut

Di sisi lain, bersamaan dengan adanya isu perang dagang AS-China, surplus perdagangan Indonesia dengan Negeri Paman Sam justru menurun US$590 juta dari US$4,7 miliar pada Januari-Juni 2017 menjadi US$4,11 miliar pada Januari-Juni 2018.

Penurunan surplus perdagangan dari AS pada paruh pertama tahun ini terjadi karena nilai ekspor hanya meningkat tipis US$8,55 miliar. Sedangkan, impor dari AS meningkat menjadi US$4,44 miliar. Sementara pada paruh pertama tahun lalu, ekspor sebesar US$8,36 miliar, sedangkan impor hanya US$3,66 miliar.


Kendati begitu, lagi-lagi menurut BPS, penurunan ini hanya bersifat musiman dan bukan karena pengaruh dari isu perang dagang. "Kalau dampak perang dagang itu rasanya masih terlalu dini untuk dilihat sekarang, seharusnya beberapa bulan ke depan," pungkasnya. (lav/agi)