Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp14.390 per Dolar AS
Yuli Yanna Fauzie | CNN Indonesia
Selasa, 17 Jul 2018 08:44 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah dibuka melemah 4 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp14.390 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Selasa (17/7).
Sementara itu, sejumlah mata uang negara di kawasan Asia justru menguat. Mulai dari won Korea Selatan 0,1 persen, baht Thailand 0,05 persen, dolar Hong Kong 0,01 persen, dan renmimbi China 0,01 persen.
Sedangkan yen Jepang minus 0,13 persen, peso Filipina minus 0,09 persen, ringgit Malaysia minus 0,05 persen, dan dolar Singapura minus 0,04 persen.
Sementara mata uang negara maju kompak lesu dari dolar AS. Dolar Australia melemah 0,13 persen, poundsterling Inggris minus 0,01 persen, franc Swiss minus 0,02 persen, dolar Kanada minus 0,02 persen, dan euro Eropa minus 0,05 persen. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,11 persen dari dolar AS.
Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Sebab, sentimen surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 dipastikan segera mereda.
"Pasar akan wait and see menunggu data-data ekonomi selanjutnya, termasuk menanti testimoni dari The Fed," katanya kepada CNNIndonesia.com. (agi)
Sementara itu, sejumlah mata uang negara di kawasan Asia justru menguat. Mulai dari won Korea Selatan 0,1 persen, baht Thailand 0,05 persen, dolar Hong Kong 0,01 persen, dan renmimbi China 0,01 persen.
Sedangkan yen Jepang minus 0,13 persen, peso Filipina minus 0,09 persen, ringgit Malaysia minus 0,05 persen, dan dolar Singapura minus 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Berpotensi Balik Arah ke Zona Hijau |
Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Sebab, sentimen surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 dipastikan segera mereda.
"Pasar akan wait and see menunggu data-data ekonomi selanjutnya, termasuk menanti testimoni dari The Fed," katanya kepada CNNIndonesia.com. (agi)