Penjualan dan Efisiensi Bikin Laba PTBA Melesat 49 Persen

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 12:53 WIB
Penjualan dan Efisiensi Bikin Laba PTBA Melesat 49 Persen Tambang, fasilitas produksi, dan pembangkit listrik mulut tambang milik PT Bukit Asam Tbk. (Dok. PT Bukit Asam Tbk)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan kenaikan laba bersih hingga 49 persen sepanjang pertengahan tahun ini menjadi Rp2,58 triliun, dibanding semester I 2017 sebesar Rp1,72 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan kenaikan itu ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 17 persen menjadi Rp10,53 triliun.

Mayoritas pendapatan usaha perusahaan berasal dari penjualan ekspor yang memiliki porsi sebesar 51 persen dari total pendapatan.



Namun, jika dilihat secara volume penjualannya, hasil produksi batu bara yang diekspor hanya 48 persen dari total produksi semester I 2018 yang sebanyak 12,22 juta ton.

"Total volume penjualan semester I 2018 naik delapan persen dibandingkan semester I 2017 sebanyak 11,36 juta ton," kata Arviyan, Senin (23/7).

Ia menjelaskan kenaikan kinerja keuangan pelat merah ini juga didorong oleh efisiensi biaya produksi perusahaan sepanjang semester I 2018 sebesar 10 persen dari semester I 2017.

"Jadi beban pokok pendapatan semester I 2018 hanya meningkat sembilan persen dengan tonase produksi yang meningkat signifikan 1,78 juta ton," papar Arviyan.


Di sisi lain, perusahaan mematok harga jual rata-rata batu bara sebesar Rp838.288 per ton pada semester I 2018. Angka itu naik sembilan persen dari posisi harga rata-rata pada semester I 2017 sebesar Rp770.938 per ton.

Adapun, Arviyan mengakui kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan ikut menyumbang sentimen positif pada kinerja keuangan perusahaan ke depannya.

"Tentu dampak positif, tadinya kan Rp13.900 per dolar AS sekarang kan Rp14 ribu per dolar AS. Pengeluaran kami bentuk dolar AS juga kecil jadi bagus," jelas Arviyan.

Sayangnya, ia enggan menyebut target pendapatan dan laba bersih perusahaan hingga Desember 2018 akibat dampak pelemahan nilai tukar rupiah.


"Kalau untuk produksinya tahun ini berencana naik lima persen menjadi 25,54 juta ton dari realisasi tahun sebelumnya 24,25 juta ton," pungkas Arviyan. (lav/agi)


BACA JUGA