Pinjam Bank Asing, Potensi Bisnis Freeport Jadi Jaminan

SAH, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 14:41 WIB
Pinjam Bank Asing, Potensi Bisnis Freeport Jadi Jaminan PT Inalum berencana menggunakan pinjaman bank asing untuk mendanai akuisisi Freeport Indonesia dengan menjaminkan potensi bisnis perusahaan tambang tersebut. (Dok. PT Freeport Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum berencana meminjam dana dari bank asing guna mendanai akusisi saham Freeport-McMoran dan hak partisipasi Rio Tinto pada PT Freeport Indonesia (PTFI). Rencananya, potensi bisnis Freeport Indonesia akan menjadi jaminan atas pinjaman tersebut.

Head of Corporate Communication Inalum Rendi Achmad Witular menjelaskan langkah tersebut dilakukan agar tidak membebani kinerja bank lokal di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dia juga memastikan tidak ada bank lokal maupun bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bakal mendanai akuisisi saham Freeport.

"Pendanaan semuanya akan dibiayai oleh bank asing karena kalau bank lokal, kami tidak mau mempengaruhi fluktuasi rupiah," ujar Rendi di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin (23/7).


Dia menyebutkan banyak bank asing yang berminat untuk membiayai akuisisi Freeport. Sayang, dia tidak menyebut spesifik bank mana saja yang bakal memberikan Inalum pinjaman.


Rendy menyebut bahwa potensi bisnis dari Freeport Indonesia akan menjadi jaminan atas pinjaman tersebut. Ia juga memastikan pendaan tersebut bukan datang dari Freeport McMoran dan tidak akan terjadi kongkalikong antar mereka.

Hingga kini, menurut dia, cadangan kekayaan di tambang Grasberg, Papua mencapai US$150 miliar.

"Banyaknya keterlibatan bank asing memberikan optimisme bahwa potensi bisnis tambang grasberg besar. Kalau potensi bisnisnya jelek, tidak mungkin bank asing mau masuk," terang dia.

Rendi mengatakan jumlah pinjaman dari bank asing yang bakal didapat oleh PT Inalum bakal melebihi harga 51 persen saham PT Freeport yang sebesar US$ 3,85 miliar atau Rp53,9 triliun (kurs Rp14.000).


Sayangnya, Rendi enggan menyebutkan berapa jumlah persis pinjaman yang tengah ditawarkan oleh bank asing tersebut. Namun, ia memastikan pihaknya segera menyelesaikan financial closure pinjaman itu.

"Financial close secepatnya inginnya kami," jelas dia.

Sebelumnya, Bank-bank BUMN berencana ikut terlibat dalam kredit sindikasi membiayai akuisisi Freeport Indonesia. Dana yang disiapkan bank BUMN mencapai US$1,5 miliar.

Namun, kementerian BUMN memberikan arahan kepada bank BUMN untuk tidak ikut berpartisipasi memberikan dana pinjaman untuk Inalum dalam proses divestasi tersebut. (agi/agi)