Reza Priyambada, Analis Senior CSA Research Institute melihat pergerakan rupiah hari ini bisa berpotensi tetap menguat di kisaran Rp14.494-14.532 per dolar AS.
Pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh sentimen devaluasi mata uang China. Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa negaranya tak perlu melakukan devaluasi untuk menghadapi tekanan dari AS dan mengantisipasi kinerja ekspornya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, rupiah perlu mewaspadai sentimen datarnya data perekonomian Eropa yang melemahkan euro dari hadapan dolar AS, sehingga mata uang Negeri Paman Sam berpotensi melemahkan mata uang lainnya.
"Rupiah masih lebih banyak merespons pergerakan mata uang global, terutama berbalik melemahnya euro Eropa dan renmimbi China seiring devaluasi nilai mata uang," katanya.
Hanya dolar Singapura dan yen Jepang yang melemah dari dolar AS, masing-masing minus 0,07 persen dan minus 0,09 persen.
Sementara di antara mata uang negara maju, dolar Australia menguat 0,16 persen. Diikuti dolar Kanada 0,04 persen, euro Eropa 0,02 persen, dan poundsterling Inggris 0,01 persen.
Namun, rubel Rusia dan franc Swiss melemah, masing-masing minus 0,05 persen dan minus 0,01 persen.