TOP TALKS

Mengatur Fintech Belajar dari Ilmu Bela Diri

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 09:10 WIB
Mengatur Fintech Belajar dari Ilmu Bela Diri Bagi Deputi Komisioner Institute OJK Sukarela Batunanggar, ilmu bela diri menjadi tempat untuk menempa ilmu kepemipinan dan menjaga emosi. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi sebagian orang, Merpati Putih, Aikido, Wushu, Tai Chi, dan Martial Art mungkin dianggap sebagai ilmu bela diri semata untuk melindungi diri secara fisik dari penjahat.

Namun, bagi Sukarela Batunanggar keempatnya lebih dari sekadar bela diri, melainkan juga tempatnya dalam menempa ilmu kepemimpinan.

Maklum, Deputi Komisioner Institute Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini tak hanya bekerja sendiri tapi juga membawahi beberapa divisi, seperti Departemen Learning dan Assesment Centre (DLAC), serta Grup Inovasi Keuangan Digital dan Pengembangan Keuangan Mikro (GIKM).


"Dari bela diri itu banyak sekali filosofi yang bisa dipelajari untuk kepemimpinan," cerita Sukarela kepada CNNIndonesia.com di Bali beberapa waktu lalu.

Ilmu bela diri mengajarkan Sukarela untuk tak asal dalam membina anak buahnya. Sebelum membimbing anak buah, Sukarela merasa perlu untuk mendisiplinkan diri sendiri terlebih dahulu.

Dalam proses membina diri sendiri itulah, Sukarela juga belajar untuk selalu siap menghadapi berbagai tantangan, ujian, dan cobaan yang datang dalam pekerjaannya.

"Semua itu pembelajaran untuk mematangkan pribadi seseorang," sambung Sukarela.

Ketertarikan Sukarela terhadap ilmu bela diri sebenarnya karena pengaruh sang Ayah yang bekerja sebagai tentara Jepang dan petinju kala itu. Walhasil, ia mengaku darah pejuang pun melekat dalam dirinya.

Pria berumur 54 tahun ini mulai menekuni ilmu bela diri saat duduk di bangku kuliah. Merpati Putih menjadi ilmu bela diri yang ia pilih saat itu. Kemudian, ia juga seringkali mengikuti yoga dan meditasi sebagai penyegaran.

"Lalu saya juga ikut Tai Chi, Aikido, Wushu, Martial Art," tutur Sukarela.
Belajar dari Ilmu Bela Diri, Sukarela Batunanggar Ilustrasi Ilmu Bela Diri. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Melalui berbagai ilmu bela diri yang ia pelajari, Sukarela mulai terbiasa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, karena tak hanya pikiran yang digunakan tetapi juga hati.

"Jadi berbagai tekanan, berbagai masalah ya harus siap mental secara pikiran, hati, dan tindakan. Itu bisa kok diselesaikan dengan baik dan itu yang namanya kepemimpinan," papar Sukarela.

Kepiawaiannya menjaga emosi tak hanya disumbang melalui darah sang ayah. Pria asal Sumatra Utara ini juga belajar banyak dari ibunya. Menurut dia, sang ibu lihai dalam menjaga hati.

"Jadi ibu saya bisa memahami saya dari jarak jauh, itu kelebihan ilmu hati. Kalau ayah saya pejuang berani," cerita Sukarela.

Bercita-cita Jadi Pujangga

Saking terpengaruh oleh gaya Ibunya, pria kelahiran 1964 ini bahkan sempat bercita-cita menjadi pujangga. Maklum, Sukarela mengatakan sang Ibu doyan meminjam buku novel sastra dari perpustakaan.

"Makanya saya pas kelas tiga di sekolah dasar (SD) bacanya sudah romansa-romansa gitu," ujar Sukarela sembari mengingat masa lalunya.

Tak Ayal, Sukarela saat kecil ingin sekali menjadi penyair terkemuka seperti Chairil Anwar. Ia adalah penulis sastra asal Minangkabau yang telah menulis puluhan puisi.

"Ya tapi itu kan cita-cita pas kecil ya. Jadi memang saya itu perpaduan antara Ayah dan Ibu," jelas Sukarela.
Belajar dari Ilmu Bela Diri, Sukarela Batunanggar Ilustrasi Tulisan Chairil Anwar. (Dok. Arsip Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin)

Semakin besar, Sukarela tentu menemukan jati dirinya. Ia memutuskan untuk masuk jurusan ekonomi saat kuliah di Universitas Sumatra Utara (USU), Medan.

Berasal dari Tanah Karo, ia berusaha keras untuk mengubah nasib dengan belajar giat. Tujuannya, menjadi "seseorang" yang membanggakan orang tua dan keluarganya.

"Mungkin kisah saya mirip film Laskar Pelangi. Jadi untuk mengubah status karena saya dari kampung ya harus belajar giat dan semangat," kata Sukarela.

Lulus kuliah, Sukarela pun langsung melamar ke Bank Indonesia pada 1988 dan diangkat menjadi karyawan satu tahun setelahnya, yakni 1989. Setelah itu, ia ditempatkan di Manado selama lima tahun dan Surabaya selama satu tahun.

"Kemudian ambil master degree di Inggris tahun 1995-1996, setelah itu kembali ke Jakarta dan sampai sekarang di Jakarta terus," papar Sukarela.

Sukarela mengaku sempat minder karena bukan berasal dari ibu kota DKI Jakarta. Namun, seiring berjalannya waktu dan melalui bela diri yang ia tekuni, rasa percaya dirinya timbul. Ia pun tumbuh menjadi seseorang yang lebih terbuka terhadap perkembangan sekitarnya.


Lantas bagaimana perjalanan karir Ayah dari tiga anak ini sejak di BI hingga menjadi Deputi Komisioner Institute OJK seperti sekarang?

Berikut petikan wawancara CNNIndonesia dengan Sukarela pada beberapa waktu lalu:

Bagaimana awal mula Anda meniti karir di Jakarta?

Saya melamar ke Bank Indonesia pada 1988, kemudian diangkat pada 1989. Lalu saya ditempatkan di Manado lima tahun dan pindah ke Surabaya satu tahun. Lalu saya ambil master degree di Inggris tahun 1995-1996. Balik lagi ke Jakarta dan terus di Jakarta sampai sekarang.

Saya itu masuk masa transisi OJK pada Agustus 2012 kalau tidak salah, dulu tim transisi namanya. Tim ini bantu Dewan Komisioner (DK) mempersiapkan berdirinya OJK. OJK berdiri Januari 2013, Undang-Undang (UU) nya 2012. Sehari-hari bantu DK yang baru.

Berkarir selama hampir 29 tahun di BI dan OJK, tugas apa yang dirasa paling menantang?

Semuanya menantang, saya beruntung. Karir saya di OJK banyak menangani hal-hal strategis, artinya bukan hanya menangani pekerjaan yang rutin. Dulu yang menantang itu proyek pengembangan usaha kecil namanya. Itu sama seperti konteks financial technology (fintech).


Namun, tidak pakai teknologi melainkan pemberdayaan masyarakat. Maksudnya adalah bagaimana membentuk kelompok swadaya masyarakat, pengusaha kecil mikro, yang dia hanya mampu menabung misalnya Rp1.000 per satu minggu. Itu juga saya banyak belajar dari situ. Berempati pada kelompok bawah.

Saya juga sekolah, sekolah master degree cukup menantang karena hanya sembilan bulan. Lalu saya pulang ke Jakarta, saat itu tahun krisis 1997-1998. Saya terlibat dalam tim restrukturisasinya, sampai pada tahun 2000 kan restrukturisasi perbankan, kemudian ada tim transformasi BI tahun 2001 dulu bersama Bapak Wimboh Santoso (Ketua DK OJK), itu dulu saya satu level di bawah Pak Wimboh.

Jadi Pak Wimboh Kepala Bagian, saya di Sub Kepala Bagian. Lalu Pak Muliaman Hadad (mantan Ketua DK OJK), lalu Pak Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia).

Saya beruntung bertemu dengan teman-teman hebat semua. Orang-orang yang memiliki kepemimpinan, orang-orang yang hebat-hebat lah.

Kemudian saya juga ikut sekolah pimpinan Bank Indonesia dulu bersama Pak Tirta Segara (Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen). Intinya saya banyak bertemu orang hebat.


Apakah pernah sempat merasa rendah diri saat merantau ke ibu kota?

Ya ya, dulu saya cenderung ya, namanya juga dari daerah ya. Dari daerah atau kampung itu kan biasanya kurang apa ya gitulah, ya istilahnya kurang gesit, kurang terbuka, kurang percaya diri, artinya biasa saja.

Namun merantau itu memperbaiki kepribadian jadi saya lebih bisa terbuka dan bergaul. Lingkungan membentuk kepribadian saya untuk lebih proaktif. Saya belajar dari pengalaman dan lingkungan. Banyak sekali perubahan secara bertahap dan terus-menerus.

Dengan posisi seperti ini, apakah Anda sudah merasa puas?

Belum. Saya sebenarnya dengan saya sekarang itu ini baru jalan saja. belum sampai ke titik teratas. Harusnya kan tidak boleh berpuas diri ya. Obsesi saya itu punya sekolah atau pusat pelatihan yang saya bisa bagikan pengalaman saya, saya bisa memberikan inspirasi atau motivasi terutama kepada generasi-generasi muda.

Cita-cita saya ingin menulis buku lalu buat semacam sekolah atau pusat pelatihan, sebelum pensiun ingin menggagas itu sebenarnya untuk tempat belajar. (agi/agi)