Luhut Bela Jokowi Terkait Tudingan Data Kemiskinan ala SBY

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 20:30 WIB
Luhut Bela Jokowi Terkait Tudingan Data Kemiskinan ala SBY Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bersama dengan Presiden Jokowi. (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyindir salah satu mantan Presiden RI yang baru-baru ini memaparkan sejumlah data ekonomi yang biasanya diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Luhut memang tak menyebut nama mantan pemimpin tersebut secara gamblang. Namun, seperti diketahui bersama belum lama ini mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut masyarakat miskin saat ini mencapai 100 juta jiwa.

"Kalian ingatkan itu yang merasa dirinya bekas pemimpin, jadi jangan kasih data yang membodohi masyarakat dengan informasi yang tidak benar," ucap Luhut, Rabu (1/8).


Luhut mengatakan data kemiskinan di BPS relatif akurat. Lagipula, kata Luhut, BPS merupakan sumber data yang bersifat independen. "Jadi tidak mungkin bohong kalau kemiskinan single digit itu baru di zamannya Presiden Joko Widodo," jelas Luhut.

Bila mengacu pada data BPS, angka kemiskinan per Maret 2018 sebesar 9,82 persen. Angka itu terendah sejak era krisis moneter pada 1998 silam. Sebab, pada era tersebut tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 24,2 persen.


Sementara, jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sebanyak 25,95 juta. Angka itu turun 630 ribu orang dari September 2017 yang mencapai 26,58 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan angka kemiskinan itu dipengaruhi oleh penyaluran program beras sejahtera (rastra) dan bantuan pangan nontunai (BPNT).

Sebelumnya, SBY mengatakan jumlah orang miskin menjadi salah satu dari persoalan yang menjadi sorotannya. Selain itu, ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).


"Yang paling penting menyangkut ekonomi dan kesejahteraan rakyat adalah penghasilan atau income dan daya beli golongan orang mampu dan golongan orang miskin yang kita sebut dengan the bottom forty, 40 persen kalangan bawah yang jumlahnya sekitar 100 juta orang," kata SBY beberapa waktu lalu.

Dia juga menjelaskan soal the bottom forty, istilah yang dipakai oleh Bank Dunia, yakni 40 persen penduduk golongan bawah. Menurutnya, di negara berkembang yang pendapat per kapitanya belum tinggi, golongan tersebut adalah kaum sangat miskin, miskin, dan di atas miskin.

(asa)