Sentimen The Fed Masih Bikin Rupiah Tertahan di Zona Merah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 02/08/2018 16:39 WIB
Sentimen The Fed Masih Bikin Rupiah Tertahan di Zona Merah Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp14.478 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Kamis (2/8). Posisi ini kembali melemah 38 poin atau 0,26 persen dari penutupan kemarin di level Rp14.440.

Kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menempatkan rupiah di posisi Rp14.446 per dolar AS atau melemah dari posisi kemarin di Rp14.442 per dolar AS.

Meski begitu, rupiah tidak melemah sendiri. Di kawasan Asia, hanya yen Jepang yang berhasil menguat 0,13 persen dari dolar AS. Sedangkan sisanya rontok dari mata uang Negeri Paman Sam tersebut.



Mulai dari won Korea Selatan melemah 0,47 persen, dolar Singapura minus 0,29 persen, baht Thailand minus 0,22 persen, dan rupee India minus 0,19 persen.

Kemudian, ringgit Malaysia minus 0,19 persen, peso Filipina minus 0,14 persen, renmimbi China minus 0,11 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Sementara mata uang negara maju kompak melempem dari dolar AS. Dolar Australia melemah 0,36 persen, euro Eropa minus 0,31 persen, poundsterling Inggris minus 0,29 persen, rubel Rusia minus 0,29 persen, franc Swiss minus 0,2 persen, dan dolar Kanada minus 0,11 persen.

Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka mengatakan pelemahan rupiah masih disebabkan oleh sentimen dari bank sentral AS, The Federal Reserve.


The Fed memutuskan menahan tingkat suku bunga acuan di 1,75-2,0 persen pada bulan ini, namun ruang kenaikan bunga pada September mendatang terbuka lebar. "Ini membuat dolar AS berhasil menguat, sehingga mata uang lain melemah, termasuk rupiah," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Sentimen lain berasal dari kembali memanasnya perang dagang antara AS dengan China. Presiden AS Donald Trump kembali mengerek tarif bea masuk impor untuk produk-produk China dari semula 10 persen menjadi 25 persen.

"Meski ada rencana pertemuan tingkat menteri antara kedua negara, namun kenaikan tarif ini langsung membuat ketidakpastian bagi pasar," katanya.

Sedangkan dari sisi internal, sikap tidak konsisten pemerintah terkait ketentuan pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) dan harga khusus batu bara DMO memberikan sentimen negatif kepada pasar.


Sebelumnya, pemerintah berencana menghapus ketentuan DMO demi mendongkrak ekspor. Namun, rencana itu kemudian diubah karena berpotensi memberatkan keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

"Akibatnya timbul ketidakpastian, sehingga dengan pemerintah tidak jadi ubah DMO membuat pasar tidak percaya lagi," terangnya.

Sementara sampai akhir pekan ini, Ibrahim memperkirakan rupiah masih harus rela tertahan di zona merah dengan potensi pelemahan hingga ke Rp14.509 per dolar AS.

Menurutnya, bila pemerintah tak mau rupiah terus melemah, pemerintah harus segera memberikan sentimen positif kepada pasar melalui data fundamental ekonomi.

Sebab, penahanan rupiah tak bisa hanya dilakukan oleh BI saja. Maklum, cadangan devisa (cadev) yang terlalu banyak digelontorkan bisa memberi risiko di masa depan. (lav/lav)