ANALISIS

Daya Beli Masyarakat Masih Rawan Kembali Lesu

Yuli Yanna Fauzie & , CNN Indonesia | Selasa, 07/08/2018 17:07 WIB
Daya Beli Masyarakat Masih Rawan Kembali Lesu Ilustrasi daya beli masyarakat. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) di luar prediksi banyak pihak. Sejumlah ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya akan mentok 5,2 persen.

Meningkatnya laju ekonomi terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang akhirnya mampu tumbuh 5,14 persen. Pada kuartal-kuartal sebelumnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi sempat melambat di bawah 5 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan geliat konsumsi masyarakat kuartal II 2018 tak lepas dari peran pemerintah. Maklum saja, kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR) yang lebih besar bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diberikan pada kuartal itu, sebelum Lebaran dirayakan.


Tak ketinggalan, pemerintah juga jor-jorannya menyalurkan bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat. Jumlahnya bahkan meningkat 61,69 persen pada kuartal II 2018 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, 18,57 persen.

Selain itu, langkah pemerintah memperpanjang libur dan cuti bersama Lebaran rupanya sedikit banyak memberi andil, sehingga masyarakat punya waktu yang lama untuk 'menghamburkan uang'.

"Persentase pengeluaran rumah tangga lebih tinggi daripada tahun lalu, yaitu 66,42 persen dibandingkan 64,58 persen," ucap Ketjuk, sapaan akrabnya, kemarin.


Dengan sumber pendapatan yang bertambah, masyarakat punya cuan untuk berbelanja. Terbukti, penjualan barang eceran pun meningkat sekitar 6,42 persen pada kuartal itu, dari kuartal sebelumnya hanya sekitar 4,98 persen.

Tak ketinggalan, industri kendaraan juga kecipratan berkah. Penjualan sepeda motor naik 18,96 persen dan mobil penumpang naik 3,25 persen.

Sayang, konsumsi masyarakat yang kini meningkat, berpotensi kembali melemah. 

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut geliat konsumsi baru terjadi ketika bansos dan THR diberikan secara jor-joran, sehingga pemulihan daya beli masyarakat seakan semu.

"Proyeksinya konsumsi pada semester II 2018 akan lebih berat, meski mungkin ada sedikit geliat di kuartal IV karena musim Natal dan Tahun Baru, tapi ini perkiraanya tidak lebih tinggi dari semester I yang ada pemberian THR," jelasnya.


Ia juga memperkirakan perhelatan Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang, Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) di Bali, hingga dimulainya tahun politik Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak akan memberi kontribusi besar pada konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini.

"Secara keseluruhan masih cukup kecil, mungkin hanya 0,1-0,2 persen sumbangannya ke pertumbuhan ekonomi. Tapi ini sifatnya hanya sementara dan di daerah tertentu saja," imbuhnya.

Menurut Bhima, konsumsi masyarakat saat ini juga hanya menggeliat sementara karena stimulus dari pemerintah tak menjangkau semua lini. Maklum, pemberian bansos hanya menyasar 40 persen masyarakat kalangan bawah. Sedangkan THR lebih banyak dinikmati masyarakat menengah.

Ia pun memproyeksi kalangan menengah masih berpotensi menahan belanja karena sumber pendapatan mereka tidak meningkat signifikan dan tak banyak mendapat stimulus dari pemerintah.

Maklum saja, sektor pekerjaan mereka yang lebih banyak berorientasi di industri manufaktur justru melemah di kuartal II 2018. "Karena di saat yang bersamaan, laju investasi dan ekspor turun jauh, sedangkan impor yang meningkat," terangnya.

Data BPS mencatat, investasi hanya tumbuh 5,87 persen pada kuartal II 2018 dari sebelumnya 7,95 persen pada kuartal I 2018. Sementara ekspor tumbuh 7,7 persen atau naik dari sebelumnya 3,36 persen. Namun, pertumbuhan ekspor bersih masih menipis karena impor tumbuh hingga 15,17 persen.

"Meski mungkin investasi ke sektor jasa, seperti bank, telekomunikasi, dan e-commerce tetap tinggi, tapi perlu diingat kontribusinya ke pertumbuhan ekonomi tidak sebesar itu," jelasnya.
Laju pertumbuhan ekonomi berdasarkan pengeluaran. (Dok. BPS)

Konsumsi masyarakat di paruh kedua tahun ini, menurut Bisma dikhawatirkan juga bisa terganggu oleh inflasi yang mungkin merangkak naik sebagai dampak pelemahan rupiah. 

Saat ini, menurut dia, para importir memang menahan diri untuk menaikkan harga karena daya beli yang masih lemah, meski beban impor sudah membengkak akibat pelemahan rupiah. "Tapi ini tidak bisa dilakukan terus menerus, nanti mereka bukan untung, justru buntung. Jadi mereka akan segera pakai harga acuan dengan kurs saat ini dan berpotensi meningkatkan inflasi, sehingga bisa menekan konsumsi dan daya beli," jelasnya.

Untuk itu, menurutnya, pemerintah perlu memberikan program-program yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara riil, sehingga pertumbuhan konsumsi tidak bersifat sementara, hanya ketika pemerintah mengulurkan tangan ke masyarakat saja.

Senada, ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Fithra Faisal menilai pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh suburnya konsumsi rumah tangga masih memberi risiko.

Dari sisi internal, memang pemerintah memberikan sejumlah stimulus. Tapi, perlu diingat pula, ada tekanan dari perekonomian luar negeri yang penuh ketidakpastian.


Ia mencontohkan, rencana kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, yang selanjutnya membuat bunga acuan Bank Indonesia ikut terseret. "Meski mungkin ada jeda waktu, tapi cepat atau lambat bunga kredit akan naik," katanya.

Walhasil, ada bayang-bayang kenaikan bunga kredit dari bank-bank di Tanah Air. Hal ini juga bisa memberi pengaruh ke daya beli dan konsumsi masyarakat. Maklum, bunga yang tinggi bisa membuat masyarakat menahan pengeluarannya.

Untuk itu, pemerintah tak bisa hanya bergantung pada pemberian bansos untuk menghidupkan gairah konsumsi masyarakat. Inflasi, katanya, jadi satu kunci yang harus dijaga, di saat pendapatan masyarakat tidak naik tinggi. Meski begitu, secara rata-rata ia memperkirakan konsumsi masyarakat masih bisa bertahan di kisaran 5 persen pada akhir tahun nanti.

Selain itu, pemerintah juga harus segera membenahi struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia agar daya topang tak hanya bergantung pada konsumsi. Namun, kembali menggairahkan indikator investasi dan ekspor.

"Untuk investasi, perlu dilakukan diplomasi hubungan bilateral sehingga mengundang investor. Lalu, ekspor, industri harus digenjot lagi," pungkasnya.


Survei Konsumen

Potensi melemahnya konsumsi rumah tangga di paruh kedua tahun ini, semakin diperkuat dari hasil survei yang dilakukan BPS dan Bank Indonesia (BI).

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2018 melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini sejalan dengan perkiraan indeks tendensi konsumen (ITK) yang turun dari 125,43 pada kuartal II 2018 menjadi 96,99 pada kuartal III 2018.

Penurunan ITK menunjukkan berkurangnya rencana masyarakat untuk membeli barang tahan lama, melakukan rekreasi, dan menyelenggarakan hajatan. Tak heran, BPS pesimis tingkat konsumsi masyarakat pada kuartal III mampu melampaui capaian kuartal II sebesar 5,14 persen.

Sementara survei konsumen Bank Indonesia pada Juli 2018 menunjukkan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini melemah dari bulan sebelumnya. Hal ini seiring dengan penurunan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini yang menurun seiring penurunan keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini dan menurunnya keyakinan konsumen untuk melakukan pemberian barang tahan lama. 
Selain itu, optimisme konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja dalam survei tersebut juga menurun, terindikasi dari Indeks Ketersediaan lapangan kerja yang menurun. (agi)