Rupiah Berakhir Menguat Tipis ke Rp14.439 per Dolar AS

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 08/08/2018 17:16 WIB
Rupiah Berakhir Menguat Tipis ke Rp14.439 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp14.439 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Rabu (8/8). Posisi ini menguat 3 poin atau 0,02 persen dari penutupan kemarin yang senilai Rp14.442.

Begitu pula dengan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di posisi yang sama Rp14.439 atau menguat dari posisi kemarin Rp14.485.

Bersama rupiah, beberapa mata uang utama di kawasan Asia menguat dari dolar AS, seperti yen Jepang menguat 0,41 persen, won Korea Selatan 0,33 persen, dolar Singapura 0,05 persen, dan ringgit Malaysia 0,04 persen.



Namun, beberapa di antaranya justru lunglai dari dolar AS. Mulai dari peso Filipina minus 0,26 persen, renmimbi China minus 0,1 persen, dolar Australia minus 0,06 persen, dan rupee India minus 0,01 persen. Sementara dolar Hong Kong dan baht Thailand stagnan.

Sementara mayoritas mata uang negara maju melemah dari dolar AS. Rubel Rusia minus hingga 1,13 persen, poundsterling Inggris minus 0,28 persen, dolar Kanada minus 0,17 persen, dolar Australia minus 0,06 persen, dan euro Eropa minus 0,02 persen. Hanya franc Swiss yang menguat tipis 0,03 persen dari dolar AS.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai penguatan tipis rupiah hari ini terjadi karena minim sentimen negatif, meski tak ada pula sentimen positif yang menopang. Sebab, pergerakan dolar AS masih cenderung stagnan, meski terhadap beberapa mata uang lain justru menguat.


"Karena pada hari-hari ini, sentimen dari rilis data ekonomi sudah tidak ada, tapi dolar AS masih stagnan, sehingga masih bisa menguat tipis," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, ia menduga rupiah masih bisa menguat tipis karena bank sentral nasional diperkirakan kembali melanjutkan intervensi pada stabilitas rupiah.

Hal ini terlihat dari perkembangan cadangan devisa (cadev) BI yang secara gradual terus menurun dari bulan ke bulan. Artinya, intervensi masih terus dilakukan oleh BI.


"Tapi penurunan cadev ini tidak begitu mengganggu ekspektasi pasar, karena yang lebih berpengaruh itu data inflasi, neraca perdagangan, hingga transaksi berjalan," pungkasnya. (lav/lav)