Begitu pula dengan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di posisi yang sama Rp14.439 atau menguat dari posisi kemarin Rp14.485.
Bersama rupiah, beberapa mata uang utama di kawasan Asia menguat dari dolar AS, seperti yen Jepang menguat 0,41 persen, won Korea Selatan 0,33 persen, dolar Singapura 0,05 persen, dan ringgit Malaysia 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, beberapa di antaranya justru lunglai dari dolar AS. Mulai dari peso Filipina minus 0,26 persen, renmimbi China minus 0,1 persen, dolar Australia minus 0,06 persen, dan rupee India minus 0,01 persen. Sementara dolar Hong Kong dan baht Thailand stagnan.
Sementara mayoritas mata uang negara maju melemah dari dolar AS. Rubel Rusia minus hingga 1,13 persen, poundsterling Inggris minus 0,28 persen, dolar Kanada minus 0,17 persen, dolar Australia minus 0,06 persen, dan euro Eropa minus 0,02 persen. Hanya franc Swiss yang menguat tipis 0,03 persen dari dolar AS.
"Karena pada hari-hari ini, sentimen dari rilis data ekonomi sudah tidak ada, tapi dolar AS masih stagnan, sehingga masih bisa menguat tipis," katanya kepada CNNIndonesia.com.
Selain itu, ia menduga rupiah masih bisa menguat tipis karena bank sentral nasional diperkirakan kembali melanjutkan intervensi pada stabilitas rupiah.
Hal ini terlihat dari perkembangan cadangan devisa (cadev) BI yang secara gradual terus menurun dari bulan ke bulan. Artinya, intervensi masih terus dilakukan oleh BI.
Lihat juga:Kemendag Akui Ekspor dalam Kondisi Rapuh |
"Tapi penurunan cadev ini tidak begitu mengganggu ekspektasi pasar, karena yang lebih berpengaruh itu data inflasi, neraca perdagangan, hingga transaksi berjalan," pungkasnya. (lav)