Daya Beli Lesu, Penjualan Rumah Kuartal II Melempem

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 01:47 WIB
Daya Beli Lesu, Penjualan Rumah Kuartal II Melempem Ilustrasi penjualan rumah. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil Survei Harga Properti Residensial Pasar Primer Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial merosot hingga turun 0,08 persen pada kuartal II 2018 dari sebelumnya tumbuh di kisaran 10,55 persen pada kuartal I 2018.

Direktur Departemen Statistik BI Gantiah Wuryandani mengatakan penjualan rumah turun karena melemahnya daya beli masyarakat. Penurunan penjualan terutama terjadi pada rumah kelas menengah dari 33,71 persen pada kuartal I 2018 menjadi minus 17,29 persen pada kuartal II 2018.

Begitu pula dengan penjualan rumah kelas atas yang turun dari 28,63 persen menjadi minus 4 persen pada periode yang sama. Sementara itu, penjualan rumah kelas bawah justru meningkat signifikan dari minus 1,97 persen menjadi 11 persen.


Ia menilai peningkatan daya beli masyarakat kelas bawah terjadi karena derasnya bantuan subsidi di sektor perumahan dari pemerintah, yaitu dengan diberikannya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).


"Ini karena alokasi FLPP meningkat, sehingga daya beli masyarakat kecil itu ikut meningkat dan mendorong penjualan. Meski tidak berlaku di kalangan menengah dan atas," katanya di Kompleks BI, Kamis (9/8).

Data BI mencatat pembiayaan FLPP mencapai Rp958 miliar. Jumlah ini meningkat 102,11 persen dari kuartal sebelumnya di minus 38,81 persen pada kuartal snebelumnaya,

Selain itu, indikasi minimnya daya beli kalangan menengah dan atas tercermin dari peningkatan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan masih adanya batasan rasio uang muka (Down Payment/DP) dari bank. Maklum saja, bunga KPR dan DP yang tinggi akan membuat masyarakat pikir-pikir lagi untuk membeli rumah.

Berdasarkan data BI, rata-rata suku bunga KPR bank asing dan campuran naik dari 10,07 persen pada Maret 2018 menjadi 10,19 persen pada Juni 2018. Sedangkan rata-rata bunga KPR Badan Pembangunan Daerah (BPD) naik dari 11,95 persen menjadi 12,25 persen pada periode yang sama.


Meski, rata-rata bunga KPR bank swasta nasional justru menurun dari 11,83 persen menjadi 10,93 persen. Lalu, bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turun 0,03 persen dari 9,33 persen menjadi 9,3 persen.

"Mungkin bank swasta nasional ini lebih efisien, misalnya beban operasionalnya lebih rendah sehingga bisa turunkan margin, jadi bisa bertahan bahkan turun," katanya.

Tak ketinggalan, penjualan rumah juga menurun karena ada peningkatan harga properti sekitar 0,76 persen pada kuartal II 2018 dari 1,42 persen pada kuartal sebelumnya. "Kenaikan harga disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan," jelasnya.

Kenaikan harga tertinggi terjadi di Medan mencapai 2,94 persen secara kuartalan dan Batam sebesar 1,53 persen. Sedangkan harga rumah turun cukup dalam di Balikpapan. (agi/agi)