Sudah Naik 125 Bps, BI Masih Berhasrat Naikkan Bunga Acuan

Galih Gumelar & Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 12:52 WIB
Sudah Naik 125 Bps, BI Masih Berhasrat Naikkan Bunga Acuan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memastikan arah kebijakan pengaturan tingkat suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) akan tetap agresif (hawkish), meski sudah mengerek bunga acuan hingga 125 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen sampai bulan ini.

Dengan demikian, masih ada peluang bank sentral kembali mengerek tingkat bunga acuannya lagi pada bulan-bulan berikutnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan arah kebijakan masih sama karena bank sentral melihat bakal ada sejumlah faktor yang akan mempengaruhi sektor keuangan Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.


Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi keuangan nasional ialah rencana kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve pada September dan Desember, dan pelemahan lira, mata uang Turki beberapa waktu lalu.

"Stance (arah kebijakan) masih sama, tetap hawkish. Tapi bagaimana tingkat suku bunga ke depan? Itu akan tetap berorientasi pada pergerakan ekonomi. Kami akan pantau lagi apa yang terjadi di global," ucap Perry di Kompleks BI, Rabu (15/8).


Selain itu, Perry bilang, stance hawkish tetap dijalankan BI demi menjaga daya saing pasar uang dan surat berharga Indonesia agar tetap diminati oleh investor asing.

Maklum saja, sebagai negara berkembang yang mengandalkan aliran modal asing, Indonesia masih perlu waspada akan potensi keluarnya modal asing ke negara maju, khususnya AS ketika The Fed secara bertahap mengerek bunga acuannya.

Di sisi lain, stance hawkish ini diperlukan karena Indonesia tengah didera defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2018. Oleh karenanya, pengaturan tingkat bunga acuan menjadi salah satu jurus dari BI untuk ikut memulihkan CAD.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai arah kebijakan BI yang tetap hawkish memang mau tidak mau harus dijalankan. Sebab, tekanan ekonomi global kian tak menentu dari hari ke hari.

Bahkan, tekanan itu kini tak hanya berasal dari rencana kenaikan bunga acuan The Fed dan perang dagang, namun juga kondisi ekonomi sesama negara berkembang.

"Seperti kemarin, volatilitas nilai tukar lira rupanya cukup mengkhawatirkan bisa memberi dampak ke rupiah, makanya BI masih perlu mengatur tingkat bunga acuan untuk menambah pertahanan rupiah," katanya kepada CNNIndonesia.com.


Hanya saja, ia menekankan kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI tak akan efektif bila persoalan di dalam negeri tidak segera diatasi, khususnya defisit transaksi berjalan. Pelebaran defisit juga memberi andil pada pelemahan rupiah.

"Makanya isu defisit transaksi berjalan ini harus segera diredam oleh BI dan pemerintah karena kalau ini bisa diatasi, setidaknya bisa mengurangi tekanan eksternal terhadap rupiah," terangnya.

Namun begitu, Josua belum bisa memberi prediksi seberapa besar lagi BI akan mengerek bunga acuan hingga akhir tahun. Pasalnya, hal ini sangat bergantung pada kemampuan BI dan pemerintah memulihkan defisit transaksi berjalan dan perkembangan ekonomi dari sesama negara berkembang.

Hal ini karena dampak rencana kenaikan bunga acuan The Fed dan efek perang dagang sebenarnya sudah masuk perhitungan BI. Namun, kejutan dari perkembangan ekonomi negara berkembang belum bisa diprediksi.


Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk Myrdal Gunarto memperkirakan BI bakal kembali menaikkan bunga acuan sebesar 25 bps pada kuartal keempat tahun ini.

"Kenaikan tingkat suku bunga acuan akan membuat pasar finansial dalam negeri tetap menarik bagi investor. Imbal hasil investor akan lebih tinggi," ujar dia.

Menurut Myrdal, kenaikan suku bunga acuan bisa menenangkan investor dalam negeri. Sebab, investor global saat ini tengah was-was menanamkan modalnya di negara berkembang, termasuk Indonesia, karena pelemahan lira Turki. Investor panik efek Turki bisa menular ke negara lain.

Selain terkait Turki, menurut dia, rupiah juga rentan melemah akibat tekanan perang dagang, perang mata uang, dan perang kebijakan antar negara.

Selain itu, inflasi bahan makanan diprediksi meningkat jika pemerintah memasukkan komoditas pangan sebagai salah satu yang terdampak kebijakan pembatasan impor pemerintah.

Ia pun menilai keputusan BI menaikkan bunga acuan kemarin sudah cukup tepat. Kendati demikian, kenaikan bunga diperkirakan bikin permintaan dalam negeri terkontraksi.


Ujungnya, pertumbuhan ekonomi akan tertahan. Makanya, sangat rasional jika kemudian BI mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,1 persen hingga 5,5 persen menjadi 5 persen hingga 5,4 persen.

"Dan ini bisa menahan ekspansi yang agresif dari sisi produksi," jelas Myrdal.

Setali tiga uang, Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan ruang BI dalam menaikkan suku bunga acuan masih terbilang cukup lebar seiring berlanjutnya ketidakpastian pasar modal global. Pengetatan moneter, lanjut dia, tentu akan tetap dilakukan hingga akhir tahun.

Apalagi menurutnya, bank sentral Amerika Serikat The Fed juga diperkirakan akan meningkatkan suku bunga acuan Fed Rate dua kali lagi di kuartal III dan IV tahun ini. Sehingga sudah barang tentu BI akan mengantisipasinya dengan kebijakan pre-emptive.

"Sehingga nanti akan ada menaikan suku bunga sebanyak empat kali di tahun 2018, lebih agresif dibandingkan sikap The Fed Maret silam yang memberi sinyal tiga kali kenaikan Fed Rate tahun ini," pungkas dia. (lav/bir)