Pelemahan rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia. Rupiah hanya melemah bersama yen Jepang sebesar 0,07 persen.
Dolar Hong Kong justru menguat 0,01 persen, ringgit Malaysia 0,04 persen, baht Thailand 0,15 persen, won Korea Selatan 0,2 persen, peso Filipina 0,21 persen, dolar Singapura 0,21 persen, dan renmimbi China 0,27 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju. Dolar Australia menguat 0,3 persen, euro Eropa 0,23 persen, poundsterling Inggris 0,15 persen franc Swiss 0,09 persen, dan dolar Kanada 0,06 persen.
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memproyeksi rupiah tertahan di zona merah pada hari ini karena pelaku pasar diperkirakan kembali meningkatkan permintaan dolar AS. Akibatnya, dolar AS diramal menguat.
Menurut dia, pasar melihat sentimen kurang baik itu dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang baru saja mengerek tingkat bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.
Pasar semula menganggap keputusan BI ini positif, namun belakangan hal ini dilihat justru dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, sehingga berbalik menjadi sentimen negatif bagi pasar.
"Dari luar, masih ada kekhawatiran akan penyebaran resesi ekonomi Turki yang membuat permintaan akan dolar AS meningkat," tandasnya. (bir)